Itu saja Tuhan.

Aku berjalan melewati lorong kecil itu untuk pulang. Tiba-tiba seorang gadis berperawakan kecil memakai jilbab tidak terlipat rapi terlihat ada di sampingku. Datang begitu saja. Mungkin karena aku tidak menoleh sama sekali, jadi tidak tahu dari mana datangnya. Pikirku saat dia menoleh padaku.
“sepertinya mendung ya? Sebentar lagi hujan” kata wanita itu lalu tersenyum padaku. Aku heran, lalu menegadah ke langit “secerah ini mau hujan? Entahlah apa yang ada di benak wanita ini” batinku. kutanggapi sewajarnya saja karena sepertinya orang yang ada di sampingku ini bukan orang waras. Ketusku sambil terus berjalan beriringan.
            Jam 22.00 aku terbangun dari tidur. Yah sehabis magrib aku tertidur karena kelelahan mengerjakan tugas kuliah 3 hari 3 malam. Tiba-tiba aku menangis. Suara tangisan anak kecil yang merasakan kesakitan kudengar dari mulutku. “ada apa ini? Apakah aku kesurupan?” kucoba menyebut namaNya. Yah... ini bukan kesurupan. Aku masih sadar. Teringatlah pada wanita yang kutemui tadi “mau hujan yah...” mungkin ini yang ia maksud. Aku terus menangis hingga malamku terasa sepi senyap tanpa siapa-siapa. Makan pun rasanya sudah tak  terpikirkan lagi malam itu.
***
Aku lupa kapan aku terakhir tertawa lepas tanpa beban. Ini bukan karena kisah rama dan sinta. Ini kisahku dengan Dia. Dia yang tak nampak namun selalu menegurku. Dia tak kasat mata tapi selalu ada di mataku. Aku mengenalNya sejak kecil. Sejak keluargaku memperkenalkannya. “inilah yang harus kau sembah dan percayai” aku manut saja karena memang ini ajaran orang tua.
Aku percaya Dia. Percaya dengan kitab dan Nabinya. Dengan membagi diriku dalam dunia dunia. Alam rasional dan irasional. Yang aku sesali, mengapa aku tak mampu menyerap ilmunya sebanyak mungkin. Tumpukan buku tentangnya tidak seperti caraku membaca novel-novel yang berbaris rapi di rak bukuku. Caraku berbicara tidak sefasih saat aku bercerita ulang tentang sebuah novel.
Akhir-akhir ini aku merasa sangat bersalah. Bersalah karena waktuku 24 tak cukup untuk mengenalNya lewat bacaan. 

Aku rasanya ingin tertawa lepas tanpa beban. itu saja Tuhan...



Cinta Tak Selamanya Bersama (katanya)

Rasanya ko’ rindu yah...
Aku rindu sama semua tentangmu. Tentang pertama kali pertemuan kita. Pertemuan yang tidak akan kulupakan hingga kapan pun. Itulah pertama kalinya ada seorang lelaki yang menyentuh  tangan dan menatapku. yang kuyakini penuh rasa sayang. Kadang di saat sendiri aku berfikir tentangmu, andai saja kita bisa hidup bersama, mungkin aku tak perlu sesusah ini untuk mengerjakan semuanya. Pasti kau akan membantu tiap melihatku bersusah payah. Aku sebenarnya sudah tidak sabar hidup denganmu. rasanya hanya engkau lelaki yang selalu membuatku tenang dan tidak ragu. Biasanya kebanyakan lelaki “aku tidak bisa hidup tanpamu” Tetapi saat aku tidak mengizinkannya hidup denganku, ternyata sampai sekarang dia masih hidup. konyol sekali kata-kata ini.
Mungkin karena aku lelah melihat lelaki yang ada di sekelilingku, dengan ribuan gombalannya, Membuatku selalu rindu denganmu. Engkau lelaki pertama yang membuatku sadar bahwa cinta adalah pengorbanan bukan janji.
Sungguh aku dililit rasa rindu. Bahkan di ruang gelap sekalipun. Apalagi jika melihat lelaki berlalu di depanku dengan sosok kedewasaannya. Benakku tiba-tiba penuh dengan bayangmu. Saat menulis ini, sebenarnya rasa rinduku sudah sampai ke ubun-ubun. Aku tak tahu harus berbuat apa.
***
Yah... aku sudah pergi dari tempatku tadi. Ada segerombolan wanita sedang tertawa terbahak-bahak. Sedang bercerita tantang semua orang yang lewat di depannya. Aku sedikit menguping, yang terdengar ada gendutlah, menorlah dan beberapa kalimat tidak terpuji lainnya (hahahha terpuji. Bahasanya serius bunget yah). Aku marah mendengar mereka karena ada beberapa kalimat yang ngena buanget di hatiku “gendut”. Oh... no aku jengkel sekali. Tadi aku rindu, sekarang jengkel, entahlah besok apalagi. Mungkin nangis kali yah... L
Sungguh...
aku rindu. Aku tidak main-main dengan rindu ini. aku rasanya ingin memeluk lelaki yang ada di depanku ini untuk merasakan kehangatan belaiannya. Tapi, tapi, tapi mana mungkin lelaki itu bukan siapa-siapaku. Dia hanya lewat dan tidak mengenaliku. Jika aku berani melakukan itu, aku akan jadi bahan perhatian oleh orang-orang. Dan dunia akan menertawaiku. Hihihi... ganjen banget.
Buyar...rinduku buyar gara-gara lelaki yang tadi di depanku. Ia pun pergi karena memang hanya singgah ngikat sepatu. Tiba-tiba saja. ada seseorang di hadapanku, Dia temanku. Orangnya lembut dan berkharisma. Ia dan aku jarang saling menyapa. Tapi kali ini ia seakan merasakan kegalauanku.
“eh... kenapa sendiri? sinta mana?” aku hanya terseyum.
“mau aku temani ga’? sambil duduk di sampingku
“oh... ga’ usah ini aku lagi sibuk” sambil berpura-pura membuka buku
“yah udah aku pergi yah..” berdiri dan meninggalkanku
Yah... aku menolak ajakan lelaki itu karena aku takut denganmu. Dulu kamu berpesan agar aku tidak terbiasa dengan lelaki.
meskipun berkharisma? iya, jawabmu. Mulai dari situ pesanmu kusimpan di ruang khusus di hatiku. Aku menyembunyikannya dan menyimpannya dengan baik. aku tidak mau ia hilang karena banyaknya lubang hitam di hatiku. Setidaknya pesanmu membuat hatiku tidak hitam legam.
Sekarang aku bersandar di dniding selasar mesjid. aku menikmati kesendirian ini. aku menatap kelangit dan menikmati suasana ini. aku tersenyum sambil membayangkan wajahmu. Banyak orang yang bilang wajah kita mirip. Mirip sekali. Ini yang membuatku yakin bahwa aku tidak sia-sia menangis karena merinduimu.
Ada dua pohon di depanku, daunnya hijau. Burung-burung bersiul menambah romantisnya tempat ini. 1 2 3 menit kadang ada daun dari kedua pohon itu yang jatuh. warnanya kuning. Tiba-tiba aku bertanya “apakaha besok cinta ini seperti daun yang jatuh karena sudah tua. Ia tidak bisa menjadi bagian dari sebuah pohon karena usianya. Ia tercecer terbang ke sana-kemari. Terinjak Lalu datanglah hujan yang membuatnya basah. si matahari datang membuatnya kering rapuh. Hingga akhirnya hilang ditelan bumi”.
Sekarang terasa ada air yang lewat di pipiku. Apakah itu keringat dari dahiku? Tunggu sebentar aku menyentuhnya. Ternyata air ini dari kedua bola mataku. Aku tak sadar, ternyata aku serapuh ini meyakini cinta kita.  Sudah puluhan tahun cinta kita berjarak karena perantauanmu di negeri sana. Namun karena usai pertemuan kita yang kuanggab pertema kalinya itu, aku kembali merangkai cinta ini untukmu meski kadang aku tidak yakin apakah cintamu ada buatku.
Aku rindu, aku ingin mendengar suaramu mengatakan “aku mencintamu”  namun jika engkau tidak ingin mengatakan itu, bagaimana jika aku mencari lelaki lain. Yang bisa menjagaku dan mencintaiku.  Apa, Jangan? Kenapa? Karena tidak ada yang bisa mencintaimu seperti cintaku. Jawabmu. ini yang membuatku tidak kuat jika rasa rindu ini datang.
Tuhan... tolong sampaikan rasa rindu ini. tiupkan di teliganya saat tertidur. Agar jika ia bangun maka wajahkulah yang pertama ia ingat.
Sekarang aku mulai menangis lepas. Air mataku kubiarkan jatuh. Biar saja dilihat orang-orang yang berlalu. Aku sudah tidak peduli. Aku benar-benar rindu. Aku berdiri dari tempatku tadi dan berjalan menuju kamar mandi. Di sana aku mengambil air wudhu “kalau ada sesuatu di hati kita ambillah air wudhu maka semuanya akan baik-baik saja” itu yang kuingat darimu wahai engkau yang membuatku merindu.
Aku kembali duduk di tempat semulah. Kali ini aku melihatmu datang padaku dengan gagah berani. kulihat kau membawa sepucuk surat di tangan kanan. Kau senyum padaku dan menghampiri dengan mata berbinar-binar. Rasanya aku ingin terbang saking senangnya.
“ini surat untukmu” meraih tanganku kemudian berbalik lalu meninggalkanku. Ada apa ini? mengapa engkau pergi lagi?. Aku sudah jenuh menunggumu. Tapi mengapa kau hanya 10 kedipan mata berada di depanku?. Aku kalap, aku tak tahu harus bagaimana, aku ingin mengajarmu tapi rasanya kaki ini berat untuk melangkah. Lalu teringatlah aku pada dedaunan yang jatuh itu. seperti itulah kisah cinta kita. Cinta yang berguguran oleh waktu. Aku menangis merintih. Kubuka perlahan suratmu, kubaca dengan sejuta harapan bahwa engkau telah mengajakku untuk hidup bersama.
“Nak, cinta itu tidak selamanya harus bersama. Cinta tidak harus saling memiliki. Ayah tahu bahwa tak mudah engkau merasakan sendiri cinta. ayah paham nak. Ayah mungkin lebih sakit darimu. Tapi ayah tidak akan pernah mengatakan bahwa cinta kita seperti daun. Tetapi cinta kita seperti kapal pinisi, semakin lama ia di lautan makin kuat pula kayunya. Ingat bahwa cinta tak harus memiliki. Jaga dirimu baik-baik. ingat nak cinta tidak harus memiliki. Ayah tetap sayang padamu walau sulit bahkan mustahil kita berada dalam satu atap. Sekali lagi nak ayah katakan “cinta tak harus memiliki” begitu pun esok ketika egkau menyukai seorang lelaki. jangan pernah bersedih jika cintamu tak sampai. Titip dirimu untuk ayah. Jaga baik-baik yah. Jangan mengecewakan aku dan wanita pilihan ayah dahulu ”
... aku terbangun dari mimpi itu. setelah wudhu tadi, aku tertidur di selasar mesjid. duh.. ayah mungkin aku terlalu lelah  memikirkanmu. 

pelacur dan sepotong kenangan di kota itu...


            Aku butuh senyum, cinta, kasih sayang, dan perhatian. Aku sangat membutuhkan ini. Aku ingin membungkusnya menjadi sebuh kado paling indah untuknya. Wanita yang telah lama kukenal. Dia tak begitu dekat denganku, tetapi aku tahu dia orang baik yang terjebak dalam dunia yang tak semestinya.
            Gumuk-gumuk pasir di pesisir pantai di kota itu membuat selalu terpana.  Tapi tidak kali ini. Binatang-binatang pantai seolah menatapku sayu dan bergumam “Bagaimana kabarnya wanita yang pernah  kulihat di sini bersamamu?”  aku terdiam, terpekur.
“dunia ini tak semudah yang orang kaya’ bayangkan. Tak seindah ulama ceramakan, tak semudah penulis menceritakan. Jika dunia muda untuk dijalani, mengapa wanita itu pergi dan menghilang dariku. Wanita yang baik berubah menjadi jahat. Wanita yang pendiam tiba-tiba menjadi kasar, wanita yang tak pernah tersentuh, kini menjadi wanita sentuhan lelaki bejat yang tak punya malu. Menghamburkan uang hanya untuk tidur semalam dengan wanita yang dianggab dapat memuaskan nafsunya.”
            Tiba-tiba seorang lelaki menghampiriku, aku masih menunduk melihat air mataku yang terus berjatuhan di gumuk-gumuk pasir putih itu. lelaki itu tetap berada di sampingku, aku memperhatikan kakinya lalu menengadah untuk melihat wajahnya. Masih belum jelas di pandanganku. Kuusap mataku dan mengucek-ngucek 2, 3 kali. Kuperhatikan dengan seksama lelaki itu. dia memakai baju putih yang lengannya telah tersingsing. Memakai kopiah putih dan sedikit berjengkot tipis. Dia menguluran tangannya hendak mengajakku berdiri. Aku kembali menunduk. Aku tak peduli dengan ajakannya. Aku tidak butuh dengan dia. Yang aku butuhkan adalah wanita itu.
            Ia masih berada di dekatku. Asyik memadangi wajahku yang sebenarnya tidak menyenangkan untuk dipandang. “salamualaaiakum Alena” suaranya mengajakku untuk menoleh padanya. kulihat wajahnya lebih dekat lagi, ternyata dia adalah temanku semasa sekolahan. Sekarang dia sudah dewasa. Sorot matanya masih seperti dulu yang selalu melihatku penuh perhatian. Sekarang dia seorang ustad yang beta dengan hidupnya yang bagiku tidak mengasyikkan. Hanya tinggal dilingkungan sekolah. Setiap hari memakai sarung dan kopiah. Mengajarkan ilmu agama kepada orang-orang. bahkan perjumpaanku hari ini pun akan menjadi ladang pahala buatnya karena akan memberiku cerama atas keluhanku pada dunia. Ia duduk di sampingku dengan mengatur jarak.
            “kamu kenapa?, belum usaikah masalah-masalahmu yang dulu waktu kita sama-sama sekolah?” dia tersenyum sambil melihatku memandangi pantai yang terhempas deburan ombak. Sekrang posisi kami sama. Menghadap ke pantai sambil memeluk lutut. Suara burung cemara semelantunkan melodi membawa perbincanganku dengannya.
            “Aku butuh kasih sayang, cinta dan perhatian” seraya terus menatap deburan ombak.
            “oh... sangat klasik sekali kata-kata itu macam zaman Roma Irama saja” tertawa kecil
            “sungguhh, betapa tak mengertinya orang di sampingku ini” aku   menggelengkan kepala.
        “kenapa terlalu sibuk dengan dunia. Bukankah dunia ini hanya sementara” mendengar kata-katanya, aku sedikit berujar dalam diam emang dunia Cuma    24 jam.
            “bagimu keinginanku klasik, karena  yang kau lalui tak seperti wanita itu.  Bagimu kasih sayang itu tak penting untuk dibahas. Karena Al-qur’an cukup untuk menenangkan hati yang gunda. Kamu kebanyakan baca buku cerama dan mengikuti acara-acara motivator”
            “jangan bilang begitu. Nanti kamu berdosa” memotong pembicaraanku
            “kenapa aku berdosa? Ada yang salah dariku? Aku hanya mengutarakan apa  yang orang lain rasakan” aku mulai tersenyum dengan ombrolan ini, obrolan   yang tak ada jawabnya kemudian. Yakinku.
“kenapa kamu berubah? Tak yakinkah engkau pada Allah setelah kau sekolah jauh?”
           Aku berbalik melihatnya. Kini posisiku berubah. Aku melihat wajahnya. Wajah yang kutahu ingin menatapku juga. Tapi dari dulu dia tak berubah. Dia tidak mau saling bertatapan denganku. Katanya dia takut ada dosa di antara kami. Ini klasik bagiku. Entahla jika bukan aku wanita yang di dekatnya.
     “aku tidak berubah, masih seperti dulu. Masih berjalan dengan kitab yang aku yakini kebenarannya. Masih mengingat pesan Guru kita. Sini, dekatlah sedikit”  perintahku
            “aku tidak mau. Di sini saja” aku tahu dia tidak mungkin tergoda denganku
“ya sudah, aku ulang lagi pertanyaanku: dunia ini tak semudah yang orang kaya bayangkan. Tak seindah ulama ceramakan, tak semudah penulis menceritakan. Jika dunia muda untuk dijalani, mengapa wanita itu pergi dan menghilang dariku. Wanita yang baik yang berubah menjadi jahat. Wanita yang pendiam tiba-tiba menjadi kasar, wanita yang tak pernah tersentuh, kini menjadi wanita sentuhan lelaki bejat yang tak punya malu. Menghamburkan uang hanya untuk tidur semalam dengan wanita yang dianggab dapat memuaskan nafsunya. Mengapa?
           “kamu seakan tak punya iman saja. menagapa bertanya tentang hal sepele seperti ini. Yang jawabannya sangat singkat?” seperti inilah tanggapan lelaki yang paling terkenal kepintarannya waktu aku dengannya masih duduk di bangku sekolah.
            “mengapa?” suaraku tertelan ombak yang terus menghempas karang-karang yang kuat.  kuulang lagi dengan nada tinggi, “MENGAPA”? Lama kami terdiam usai teriakanku.
            “karena wanita itu tak punya iman. Andai dia punya iman yang kuat pasti dia   Bertahan dengan semua ujian yang Allah berikan. Tak mungkin dia berubah  menjadi jahat, pemarah bahkan menjadi pemuas nafsu lelaki” memulai kembali pembicaraan.
            “mudah sekali kita melewatinya dengan kata-kata iman” ujarku sambil mengaduk-   ngaduk pasir pantai yang ada di dekatku.
            “kamu ragu dengan kalimatku barusan?”
            “belum menjadi kalimat saja aku sudah ragu. Mau tahu kenapa? Bukan karena siapa-siapa dan apa-apa. Tetapi karena aku sendiri tak bisa menjawab pertanyaan wanita itu. wanita yang kukenal di sini. Di daerah ini untuk pertama kalinya.
            “dulu aku pernah mengatakan hal ini kepada wanita itu, tentang iman  yang kau katakan tadi. Tapi dengan marah seakan ingin memotong batang leherku, ia mengatakan, kamu berbicara iman karena kau sekolah di sekolah yang mengajarkan syurga-neraka. Sedangkan aku, aku tidak sekolah. Aku hanya tamat SD. Tak pernah tersentuh ajaran agama kita. Mau bilang aku tidak berusaha? Aku berusaha tapi aku tidak punya uang. bisa dikatakan aku anak jalanan. Setiap hari hanya mencari uang untuk mengisi perut. Kamu menyuruhku menutup aurat agar lelaki tak mengincarku? Pantaskah aku memakai jilbab sedangkan aku menjual diri?. Menyuruhku membaca al-qur’an? Pelajari hurufnya saja tak pernah. Hidup kita berbeda. Kesalahanku ini bukan dariku tapi orang tuaku yang tak pernah ada di dunia ini. Orang tuaku tak ada. mau salahkan siapa ketika aku tumbuh di jalan yang tidak benar. Sedangkan aku tak tak tahu saat itu bahwa kehidupanku hancur bila terus berada di jalan itu. sudahlah, memang jalan kita berbeda. tumbuh tampa dijamah lelaki adalah pilihan wanita  tapi bagaiman jika pilihan wanita untuk tumbuh adalah jamahan lelaki??? Bisakah kau jawab???. Tahu tidak, lidahku keluh mendengar semuanya. Aku tiba-tiba teringat denganmu yang tumbuh sebagai anak seorang ulama. Ayahmu penghafal al-qur’an dan ilmunya banyak. Pantaslah kamu dikatakan shaleh. Saudara perempuanmu dididik untuk menutup aurat dan mengaji. Tidak boleh pacaran hingga ada lelaki yang datang kepada ayahmu. Tapi wanita itu? masihkah kau menyalahkan dia karena keimanan?
                         Dan sekarang aku masih mencari jawabannya. Aku bersalah telah menyalahkannya. Bukan itu, bukan itu seharusnya yang kulakukan. Tetapi membantunya dengan uang. Agar bisa mengubah diri dan mencari iman melalui pendidikan. Karena tak ada yang gratis di dunia ini. Masihkah kau mengatakan dunia ini singkat? Jika singkat, aku mau berpuasa saja jika uangku tak ada. tinggal menunggu mati saja kan? tapi tidak, aku butuh uang untuk menunggu ajalku datang menjemput. Karena aku mau makan dan hidup.
Dia tertunduk mendengar semuanya. Dia tak menjawab. Aku berdiri,
“semoga perjumpaan kita kali ini bermanfaat. Titip salam buat ayahmu dan anaknya lelakinya yang sekarang sudah menjadi ustad” aku berbalik meninggalkannya.
“tunggu, katanya kamu butuh cinta, perhatian dan kasih sayang?” menahanku        meninggalkannya.
             “sudahlah... hal seperti itu hanya masalah klasik kan?. Aku membutuhkan hal itu, sebenarnya untuk kubagikan pada wanita itu. tapi tak kutemukan padamu. Kamu hanya mengandalkan imanmu namun tak peduli dengan orang lain. Sekarang, adalah perpisahan kita, aku sudah kehilangan wanita itu, dan aku juga mau kamu hilang dalam hidupku. Biarkan ilmu mempertemukan kita. Dan wanita itu biarlah jadi kenangan bagiku tiap ada di kota ini”
            Aku pun terus pergi meninggalkannya bersama butiran pasir dan binatang laut melepas       yang kepergianku.

“Suatu saat ilmu itu yang mempertemukan kita. Mencari ilmu sebanyak mungkin dengan mengetahui hakikat dari ilmu itu. iman tak segampang dan semudah yang kita lihat. Karena iman ada di dada. Mencarinya tak mudah. Butuh dunia untuk mengenalinya”.

Barru. Di laut yang tak pernah kulupakan itu


                                                                                   

Bahagia di hari Natal


Hari Natal bagiku spesial, meski banyak orang seagamaku terus-terusan berdebat tentang hal ini. Aku tidak ikut-ikutan. Sungguh.
Di hari Natal aku banyak berdo’a bahkan shalatku tak seperti hari-hari biasanya. Lebih khusyuk, yah... mungkin itulah namanya.
 Hari Natal bagiku, seakan melihat masa bahagiaku sewaktu kecil bersama ibu dan ayah.  Aku merasa ada ibu yang memegang tangan kiriku dan ayah memegang  tangan kananku sambil berjalan di pasar malam. Ketika aku menaiki kuda-kuda, mereka melihatku sambil tersenyum sesekali melihat wajah satu sama lain.
saat aku berlari mencari permainan baru, tersungkurlah tubuh kecilku yang sangat gesit ini, ayah langsung menggendongku “duh anakku jangan nangis yah.. kita main robot-robot aja” aku tersenyum lalu tepuk tangan sambil memperlihatkan gigiku yang habis dimakan ulat. Aku seperti putri di sebuah kerajaan antah barantah Yang hidup bahagia. Tak ada beban apa pun. Oh sungguh hari Natal membawaku ke dunia fantasi anak-anak. Aku sangat bahagia. Masih melihat ibu dan ayah saling bertatapan mesra dan yakin bahagia selamanya. Yah... itu hari Natal ke-4 dalam hidupku ada di pangkuan mereka. Setelah itu, berubahah dunia menjadi dunia dongeng. Menanti sang raja membawa obat penawar agar ratu terbangun dari sakitnya. Oh... oh.. oh... lupakan!!! Itu dunia fantasiku saja.
Hari Natal dalam hidupku adalah moment terindah yang tak bisa kulukis memakai kanvas semahal apa pun. Hari dimana aku merasa paling disayang banyak orang, aku orang yang paling spesial di antara orang-orang di dunia ini. Yah... dunia. 
 Hari Natal tidak bisa tergantikan dengan hari-hari biasa. Karena hari ini awal untukku mengukir kisah hidup baru yang lebih dahsyat lagi dan menerima amanah lebih berat lagi. sebuah momnent yang memberiku pertanyaan “seberapa banyak hal yang telah kamu lakukan hingga hari ini?”.  Aku sadar, tak pantas tersenyum menjawab pertanyaan ini, karena tak satu pun hal luar biasa yang pernah kulakukan. Dengan wajah sedikit menunduk aku menjawab “Insya Allah setelah hari ini”  ini adalah jawabanku tiap hari Natal tiba.
Menuju hari hari Natal, aku selalu bersiap-siap. Menunggu di bawah jam dinding memastikan jarum panjangnya melewati angka 12 untuk menuju tanggal 25 desember. Ini kulakukan sejak ayah dan ibu tak pernah lagi terlihat bersama setelah Natal yang ke 4. Saat melihat jarum jam melewati angkan 12, gemuruh di dadaku meledak. Cahaya membias dari langit menerangi wajahku saja. Hanya wajahku. Aku bagai ratu yang terbang bahagia memakai sayap yang dipinjamkan bidadari. Aku merasa berdansa bersama pangeran. Memakai baju ala kerajaan dongeng. Rambut yang terurai panjang dan sangat cantik. Seperti barbie.
Kenapa aku sangat bahagia? Karena seluruh dunia bahagia menyambut hari ini. Hari di mana aku dilahirkan dari rahim seorang wanita bugis. Yah... benar, 25 desember aku ulang tahun. Ulang tahun yang tak pernah keluargaku ingat. Karena bagi mereka ini bukanlah hal penting. Katanya kita bukan orang kota yang merayakan hal seperti ini. Dan memang itu benar. Aku juga sepakat. Namun, tak  bisa kupungkiri aku bahagia dengan kebahagiaan orang di seluruh dunia terutama umat Kristiani dengan datangnya tanggal 25 desember. Aku merasa ini adalah acara ulang tahunku yang dimeriakan semua manusia. Tepuk tangan manusia seakan memberiku kekuatan bahwa “jadilah orang yang lebih baik lagi diumurmu kali ini” meski semuanya hanya “bagaikan”.
Tuhan... terima kasih atas semua kebaikanmu. Aku bahagia menjadi hambamu. Aku bahagia dengan semua yang kau berikan. Aku bahagia dengan cintamu. Aku bahagia dengan hidupku. Aku bahagia. Aku bahagia, aku bahagia. Aku bahagia dengan air mata yang tak bisa kering ini.
Umurku bukan lagi anak belasan tahun, dosa telah dibeban padaku seutuhnya. Pilihan telah orang tua serahkan sepenuhnya. Mereka tak lagi bertanya “siapa yang menggodamu. Sini saya patahkan lehernya” tetapi “siapa yang menggodamu? Kuatkanlah imanmu karena nafsu terus bertahta dalam hati manusia yang menjalin cinta”. Yah...... ternyata aku sudah besar, tak boleh lagi bercanda sambil menarik tangan teman lelakiku lalu meletakkan di kepalaku dan berujar “jaga aku selamanya ya”  ini permainan nikah-nikahan waktu masih kecil. Aku masih ingat. Nama temanku itu........ ah... sudah lupa ternyata. Tapi sekarang pasti sudah besar.
 Alhamdulillah, syukurku padamu  Tuhan yang telah menjadikanku salah satu dari hambamu yang beragama Islam hingga hari ini. Terimah kasih atas umur yang masih kau pinjamkan padaku. Umur yang akan memberiku kekuatan agar kuat menopang ujian esok hari yang lebih luar biasa.

Jogja 25 desember 2013

Sulawesiku sayang, Sulawesiku malang

            Sudah beberapa hari ini aku terganggu, bukan sedikit tapi banyak. Telingaku penuh dengan ocehan orang-orang yang tak bertanggung jawab. Sudah lebih setahun aku hidup di perantauan. Bersama orang-orang dari berbagai suku. Susah mencari teman. Mungkin harus lebih bersabar menanti orang yang ingin berteman denganku. Ternyata sebenarnya bukan itu, tidak, tidak karena itu. melainkan memang aku dijauhi. Setiap hari pulang pergi kampus sendiri. Kalau pun dapat teman, hanya bertahan ¼ minggu.
            “Memang orang-orang di sini kalau ada saja maunya lalu deket-deket” kata salah satu temanku yang dari luar pulau jawa. Aku tak begitu percaya karena didikan dari orang tuaku bahwa kita tak pernah tahu sifat seseorang sebelum berada di dekatnya ditambah pesan dari dosenku yang mengatakan bahwa mengapa ada rasa benci dan buruk sangka, karena mengetahui kesalahan dan kekurangan orang atau kelompok hanya dari mulutu kemulut tanpa pernah mencari tahu sebenarnya.
            Memang tak mudah mencari teman yang sesuai prinsp hidup kita. Apalagi jika berada di tempat yang jauh dari tempat kita dibesarkan.
            Tapi aku kadang bertanya, setelah kejadian beberapa waktu lalu tentang keberadaanku. Aku berfikir, mengapa Tuhan menciptakanku di tengah-tengah suku bugis. Apa rahasia Tuhan. Dulu aku merasa argumenku tentang adat dan kelebihan suku adalah suatu kebanggaan. Tapi entah mengapa beberapa hari ini kebanggan itu berubah menjadi tanda tanda tanya besar dalam benakku “Benarkah kebanggaan ini? Mengapa aku harus tercipta dari sebuah golongan masyarakat yang kental dengan adatnya? Mengapa aku tidak terlahir dari keluarga perkotaan yang hidup  netral tanpa ada sekat-sekat?” huffft... kucoba menyekah peluh yang kurasa tak begitu banyak dijidatku.
            Siang itu hujan sangat lebat. Aku tak bawa payung. Kufikir lebih baik naik bus saja. lebih nyaman dan tidak perlu berdesak-desakan. Kakiku melangkah saat bus berwarna hijau itu tepat berhenti di depanku. Aku duduk dengan gesitnya takut jika nanti bus menancap gas dan aku akan terlempar. Di sini para supir tidak seperti kebanyakan daerah, seakan jalan raya milik sendiri orang lain Cuma numpang lewat.
***
            Malam itu perut menegurku yang sedang asyik duduk di depan laptop hijau murah milikku. Aku meyambar jilbab yang tergantung di belakang pintu kamar. Kulangkankan kakiku segera mungkin bersama teman sekontrakan. Sambil bejalan perlahan, kubuka dompetku. Ternyata isinya tinggal 2000. aku beralih ke atm tersekat. Kuambil sekenanya saja karena isinya memang tak begitu banyak. Saat kakiku melangkah keluar ATM, wajahku tepat tertuju pada seorang lelaki yng kuperkirakan umurnya 50-an. Tak perlu tersenyum dalam keadaan seperti ini, karena wajah bapak itu sepertinya tak membutuhkan senyumku dan perutku pun tak cukup kuat memberi energi pada wajahku untuk membentuk senyum.
            “eh.. di manaki makan?” tanyaku pada teman
          “kita saja maunya di mana” jawab temanku yang wajahnya juga pusat pasih karena kelaparan. Heheh rasanya aku ingin ngakak jika lihat wajahnya. Aku berfikir, kami berdua tengah malam seperti ini mencari makan seertinya lucu saja sih. Katanya wanta tapi kalau soal makan, ga’ kalah tuh sama lelaki.
         “orang makassar ya?” tanya bapak yang berambut putih itu. menyapa dengan wajah yang sangat pahit, sampai-sampai aku tak bisa membedakan mana kopi mana wajah bapak itu. sumpah wajahnya buat jengkel.
            “iyya pak” kami bersamaan menjawab.
            “pantasan” celetusnya sambil memutar biji matanya yang saya tahu bin yakin kalau ia tidak suka dengan orang-orang sulawesi
            “kenapa pak?” pertnayaan yang kuyakini adalah awal dari perdebatanku.
            “di sana kan orang-orangnya kasar, suka buat kerusuhan, mana otaknya pas-pasan lagi” tuhaan.. darahku seketika mendidi, Meski hal ini selalu kudengar. Aku mendekati motornya sambil terus menatap matanya. Jika di dunia ini ada     lomba orang terjelek dan bebal, maka bapak ini yang akan menjadi juaranya.
           “maaf ya... tidak semua lo” fikirku jika reaksiku brutal maka ia lebih yakin lagi          dengan apa yang ia katakan tadi.
            “yuk kita pulang” sambil menarik tangan temanku yang hanya melihat ke arahku dari tadi.
            “mari pak” kata terakhir untuk meyakinkan kalau kami tak sejelak yang ia katakan. Bapak itu tak menjawab giginya hanya terlihat. Tapi bukan karena senyum tapi cengengesan yang dibuatnya untuk menghibur diri karena kami tidak terpancing untuk orasi di depan ATM itu... yuuuu demo kali
            “heehhe andai saja saya bawa spidol dan kertas, sudah dari tadi tuh” celotehku
            “ngapain?” tanya temanku “dari tadi curhat di kertas” heheheh kami pun berjalan santai seolah-olah malam itu adalah pagi hari.
***
            Lorong yang kami lewati terlihat sepi. Tidak seperti tadi saat kami berjalan ke ATM. Lorong yang hanya memakai lampu 15 watt itu terlihat seram. Aku hanya berharap di depan sana tidak ada preman-preman yang menggangu. Aku dan temanku mencoba menutupi rasa takut. Sembaranglah kami kerjakan. Tertawa bahkan cerita membahas tentang diriku yang kemarin dikejar-kejar orang gila. Namun takut lebih besar ketimbang cerita-cerita lucu yang kami rangkai. Akhirnya kami pun berlari seperti anak kecil yang ketakutan suster ngesot.
            “mau ke mana?” seorang muncul dari balik tiang listrik. kami saling berpegangan. Menyusul lagi dua temannya. Mereka bertiga sekarang. Wajahnya sangar, mirip yang di TV-TV itu. mataku mulai berkaca-kaca takut jika dia berniat buruk ke kepada kami berdua. Laki-laki yang berambut panjang yang keliatannya bau itu mendekatiku. Terlihat jelas tatto-tatto yang bertegker di lengan kanannya. Gambar burung hantu. Yah... tatto dan wajahnya beda-beda tipislah.
            “mau apa? Awas jangan mendekat” ancamku dengan mulut terbata-bata. Sambil memegang tangan temanku yang dinginnya seperti es batu. Dia sangat takut. Dia memang orangnya penakut.
            “jangan takut, kamu dibelakangku” kucoba menenagkannya. Lelaki itu mendekatiku dan ingin menyentuh wajahku.  Kutepis tangannya lalu menabok lengan besarnya itu. aku tak takut jika sudah berani menyentuh. Kodorong badan besar bak kudanil itu. ia sedikit terjatuh meski tidak sampai ke tanah. Segera kutarik tangan temanku membawanya berlari. Para pereman itu mengejar kami. Sungguh, tak satu pun ada yang melihat kejadian ini. Aku berhenti untuk mencegah preman itu dan menyuruh temanku berlari
            “tapi, kamu?” ragu untuk meninggalkanku
         “jangan tapi-tapian, lari saja!” teriakku. Preman itu memegang tanganku,     membuatku sedikit pun tak bisa bergerak. Salah satu dari mereka menamparku. “Seperti ini ni orang sulawesi. Perempuanya sok kuat dan jual mahal. Mau melawan?” dilayangkannya tamparan lagi. Terasa ada sedikit darah yang keluar dari telingaku. Aku hanya diam tidak berani lagi berkata- kata. “Aku benci orang-orang sulawesi” berteriak di dekat telingaku wajahnya seperti menaru dendam. “bawa dia” perintah lelaki bertubuh besar itu kepada kedua temannya. Oh bukan, Tepatnya adalah anak buah. ia membawaku pergi.
            Semburat akar terlihat di langit hitam. Petir tiba-tiba datang. Dan  tak lama lagi huja turun. aku sendiri di tangan tiga lelaki preman. Entah apa yang ingin ia lakukan padaku. Aku di masukka ke dalam gudang. Di sana aku diikat. mereka memulai introgasinya.
            “kamu orang sulawesi kan?” masih dengan nada biasa.
            “iya” jawabku tenang. Aku pasrah
            “kamu wanita bugis, yang sukanya jual mahal. Orang tuanya tak tahu malu. Iya kan? Ha!!!” Lelaki jelek yang di tangannya penuh tatto itu memegang lenganku. Tampaknya ia sangat marah. Aku hanya terdiam.
            “karena wanita bugis aku seperti ini. Karena budayamu aku seperti ini. Tau tidak? ha!!!!” meletakkan jari telunjuknya di dahiku. Aku gemetar. Aku takut mati. Lelaki yang ada di depanku tiba tertunduk lemas. Lalu terkulai ke lantai.
            “karena budaya bugislah kekasihku tak menjadi pendampingku. Ia menikah dengan lelaki lain. Dan aku hidup sendiri seperti sampah. Aku hanya ingin dia. Tapi mengapa cintaku tak sampai hanya karena uang. Kenapa? Kenapa? Kenapaaaaaaaaaaa?” sambil memukul-mukul lantai. Aku tersadar bahwa lelaki yang ada di hadapanku ini terkena CINTA TERTOLAK KARENA DO’I PANAI. Aku terbawa suasana. Titik air keluar dari mataku. Aku kasian melihat keadaan lelaki itu. ke dua temannya menariknya untuk bangkit. wajah premannya hilang seketika. Kulihat ia mengatur nafasnya untuk bangkit. Matanya terlihat merah. Tak kusangka ia mengeluarkan pisau dari belakang bajunya.
            “Aku akan membalas dendamku ini kepadamu” memainkan pisau itu di wajahku. Aku gemetar sekujur tubuhku dingin. Pisau yang ada di wajahku pelan-pelan dibawanya ke belakang. “sruuuuuuuuuttt” kurasakan benda tajam menusuk bahuku. Kurasakan ada cairan yang keluar, bahkan sempat terlihat jelas cairan itu. warnanya merah. Yah.... benar itu darah. Mataku berkunang-kunang hingga akhirnya tak dapat melihat apapun kecuali gelap. Aku sudah mati.
            Aku terkejut saat terbangun, segera kutepis hordenku. Cahaya di luar sana sudah sangat terang. Yah.. lagi-lagi aku terlambat shalat subuh. aku berlari ke WC mengambil air wudu dan segera shalat subuh. Jika mencari orang yang sukanya telat, jangan jauh-jauh sayalah ratunya. Semuanya serba lamban. Maka dari itu rata-rata baju yang saya beli adalah baju yang tiak menggunakan kancing. Bila dihitung, satu kancing aku biasa mengaitkannya semenit. Hitung saja jika sepuluh kancing!. Itulah analoginya.
            Aku bersandar di dinding kamar, memutar-mutar otak mencoba mengingat mimpi buruk itu lagi. Aku tahu mengapa aku mimpi seburuk itu, pasti karena semalam ketemu sama bapak tua di ATM dan menghabiskan malamku membaca berita tentang pembacokan di daerahku yang disebabkan hanya karena uang panai’nya kurang (uang belanja pada acara pernikahan bugis-makassar). Ditambah pertanyaan dosenku beberapa hari yang lalu “Mengapa orang sulawesi itu sukanya demo? Mengapa lebih mengutamakan pukulan ketimbang berbicara degan kepala dingin?” mendengar itu, aku tersenyum untuk mengendalikan suasana. Dengan sedikit senyum dipaksakan aku mencoaba menjwab “Budaya sulawesi teutama bugis-makassar it mengutamakan tak banyak bicara pak. orangnya tegas loh pak. Kami lebih baik berbicara di depan ketimbang di belakang. itu sudah harga mati” sedikit bercanda. ia melanjutkan dengan “makassar yang saya kenal adalah daerah yang paling kurang memegang agama selain islam tapi ko’ seperti itu?” sambil memukul meja. Aku hanya diam malas mereponnya. Toh susah ia pahami. Diam saja mungkin leih baik pikirk. Sepertinya jika aku melihat dosen ini dia mempunyai dendam. Dari wajahnya ia menyimpan masa lalu pada orang sulawesi. Aha setelah kuselediki betul sekali apa yang tersirat dan tersurat dalam benakku. Ia pernah terkhinati oleh wanita bugis. Yah... lebih tepatnya kalau zaman sekarang MAPALA (mama papa melarang). Menurut cek and ricek kampus, ayah dari perempuan tersebut melarang memilih calon suami dari daerah lain. Yah............. duh... miris juga yah...?
            Sekarang aku ingin berbagi pilu sebagai wanita bugis. apalagi dengan nama Al bugisy. Tak banyak yang suka denganku sewaktu menjadi MABA. Aku katanya terlihat arogan dan sok pintar. Yah... ukuran sulawesilah. Aku rasanya ingin menggigit orang-orang yang selalu melihatku dari sisi buruk wanita bugis. padahal apa bedanya wanita bugis dengan yang lain. Aku merasa perbedaan budaya, agama, dan suku bukanlah hal yang aneh, karena dalam perjalanan ini kata Tuhan, hanya Takwa yang membedakan kita.
            Memang aku akui bahwa ada tradisi sulawesi-selatan yang susah orang lain terima. Yaitu Do’i panai. Wacana ini sering kali jadi pembahasan banyak kalangan. Mulai dari kaula muda sampai kaula Tua. Sebanarnya suatu adat atau tradisi, jangan selalu melihat dari sisi negatifnya. Taka ada satu suku pun di dunia ini yang sempurna. Di manapun Tuhan menitipkan kita, itu adalah sebuah hadiah. Urung niatku meninggalkan budaya yang telah membesarkan menjadi seorang wanita yang lebih yakin pada panngadareng. Panngadareng adalah wujud kebudayaan Sulawesi Selatan yang menjelma menjadi Siri’. Kemudian dengan siri’ itu seseorang membawa dirinya berinteraksi dengan sesamanya. Nah... dalam interaksi dan kebersamaan itulah menjelmalah menjadi pesse atau pacce.
            Berbicara mengenai do’i panai yang menjadi tema hangat di kala hujan bagi pria-pria. Bukanlah hal tabu untuk selalu kita dengar. Namun, saya sebagai pencetus wanita bugis ingin mengeluarkan argumen. Sebuah ungkapan hati dengan beberapa refrensi tentang sejarah sulawesi selatan. Begini, beberapa hari yang lalu saya sempat membaca tulisan di salah satu teman yang mengatakan seperti ini “Mending dengan uang belanja 5 Juta atau 10 juta, tapi keturunan yang dihasilkan adalah PARA PENGHAFAL ALQUR'AN DAN ULAMA-ULAMA CALON PEMIMPIN UMAT MASA DEPAN !!!!” saya menggaris bawahi kata mending dan tanda seru yang berderatan sebanyak 4. Kata mending adalah kata perbandingan. itu berarti adalah pilihan. Pilihan yang tepat.
            Tak mengapalah jika 5 juta atau 10 juta menjadi persoalan, tapi di sini aku mencoba membahas adat istiadat yang dilihat dari kaca mata budaya, bukan agama. Jika kita memakai kaca mata agama, maka hal ini sulit kita terima. Namun Tuhan telah menganugrahi kita akal untuk mencari dan menyeimbangkan antara agama dan budaya. Dan aku merasa selama budaya tak menyalahi aturan yang telah ditetapkan oleh agama. Whay not? Tak ada masalah.
            Ini yang menjadi kekeliruan lelaki yang selalu menganggap bahwa uang panai’ itu takkala bunuma deh. Padahal harus kita tahu mengapa uang yang digunakan seorang lelaki untuk menyunting wanita-wanita bugis itu sangat tinggi, itu dipengaruhi oleh sejarah. Di sulawesi selatan ada tiga kabupaten yang terkenal yaitu Gowa, Bone, Wajo. Dari ketiga kabupaten ini masing-masing mempunyai keahlian dalam bidang ekomomi. Sinjai yang terkenal dengan keahlianya dalam membuat perahu. Wajo dengan jiwa dagangnya dan Bone yang ahli dalam bidang bercocok tanam. Dari ketiga kabupaten ini sulawesi selatan terkenal dengan kemakmuran perekonomiannya. Meski pernah mundur pada Abad XVII. Nah...... setelah saya mendongeng, kita bisa memetik sebuah kesimpulan bahwa sanya orang-orang sulawesi terdahulu memang memiliki banyak uang.
            Trus ada lagi ni yang nanya, “Jadi di sulawesi itu banyak perempuan yang perawan tua ya?” duh... gubrak deh jika bahasnnya perawan tua.
            “Tidak juga. Karena di Sulawesi lelakinya tangguh. Jika dia mencintai wanita yang ia inginkan maka ia akan berjuang sekuat tenaga” jawabku. “Hehehe meski ada ada juga sih pake uang orang tua” bisikku dalam hati.
            Terakhir, semuanya kembali pada masing-masing prinsip. Namun satu hal yang harus kita tahu bahwa tak baik jika selalu melihat golongan yang paling baik adalah yang kita yakini. Cobalah membuka hati dan mata bahwa perbedaan adalah Rahmat.
            Terkhusus untuk para lelaki Bugines...
            Tuhan tidak akan memberikan ujian melewati batas kemampuan hambanya. Kita di ciptakan terlahir dari daerah yang sangat kontroversi karena Tuhan tahu lelaki bugis kuat dan pantang menyerah. Nama saja pelaut. Hehehheh popoye kaleee. Meski banyak yang memutar haluan untuk memilih wanita yang memudahkannya.
So, Pilihan ada di tangan Anda...
            Ettttttts... ada lagi, tidak semua loh yang dikatakan orang tentang do’i panaik itu benar. Menakuti-nakuti orang lain dengan matematika (10+20+30+40+50 dan seterusnya) cobalah datang dengan keikhlasan dan keyakinan penuh pada Tuhan ke rumah wanita idaman anda. Bernegosiasilah! Karena sebenarnya hati orang-orang sulawesi itu lembut namun terbungkus dengan ketegasan wajahnya.

“setelah aku dewasa dan sadar pada semua takdir Tuhan, rasanya tak mudah untuk meninggalkan budaya yang telah membawaku pada hari ini. Hari dimana aku tersadar bahwa orang tuaku yang terlahir dari suku bugis bahkan mati  pun akan tetap di sana adalah kekuatanku untuk terus menjadi muslim yang selalu menghargai perbedaan. Met bobo Bunda... semoga bunda disayang Allah”