Siti dan sepenggal pertanyaan Sarah


            Kaki ini masih terseret oleh pikiran yang membumbung tinggi tak tentu arah. Aku berjalan sudah lima jam namun tak kutemukan tempat untuk duduk menyandarkan beban badan. “Biarlah, di depan sana mungkin akan ada tempat istirahat” sambil terus berjalan. Tak begitu lama, ada tempat yang nyaman dan tak banyak orang. tapi sepertinya tidak ada penjual makanan. Sudahlah, duduk berselonjor sedikit harus disyukuri.
            Aku duduk  di sebuah kursih panjang yang terbuat dari besi. Kusandarkan badanku lalu memejamkan mata. “ada apa aku ini, rasanya hatiku penuh. Masalah itu hadir sedemikian rupa membuatku tersesat” kuhirup udara yang tidak baik untuk dihirup itu. biarlah.
            “Seminggu sudah aku merasakan hal yang aneh. Pilihan berat itu harus ku jalani. Dulu aku merasa ini hanyalah cerita Siti NurBaya yang berlaku pada masanya. Cerita yang berganti masa dengan tayangan yang lebih menarik. Seperti film bioskop laskar pelangi, sang pencerah dan film lainnya yang mengangkat tentang semangat hidup tapi ternyata ini berlaku padaku wanita yang lahir di akhir abad ke 20. Jika membayangkan, rasanya hatiku  mengundang bau busuk untuk muntah,” Gumamku.
            Kubuka perlahan mataku, kurasakan ada yang duduk di kursi yang sama. Aku menoleh ke kanan. Yah... ada wanita yang umurnya sebayalah denganku. Tatapannya kosong dan garis wajah mengendor mungkin akibat Power Failure alias koslet. Ah... untuk kali ini tidak usahlah bersimpati, masih banyak masalah yang harus kuemban juga.
            Sekita 30 menit aku duduk di kursi panjang bisu itu, namun sama sekali belum ada satupun jalan keluar yang kutemui. Wanita itu? ternyata masih bersamaku juga. Posisinya berubah, ia mengangkat kakinya untuk memeluk lutut dan menundukkan kepala. Dan kendati aku berusaha pergi dari gerak-gerik wanita yang di sampingku ini, rasanya tidak bisa. gejolak untuk menenangkannya lebih besar ketimbang menenangkan  hatiku sendiri. Kucoba mendekatinya dengan menggeser sedikit demi sedikit badanku ke dekatnya.
            “eh.. kenapa? Ada yang bisa aku bantu?” sambil menyentuh lututnya. Ia tak merespon, malah memeluk erat-erat kedua lututnya. Aku tidak menyerah, aku berusaha agar dia tidak terlihat seperti memikul beban hingga aku meninggalkan tempat ini. setidaknya aku pergi dengan melihat orang lain sedikit melupakan masalahnya. Tiba-tiba saja ia menangis tak terkendali. Aku panik, entah apa yang harus aku lakukan, dengan sedikit ragu kuranggul bahunya kemudia kupeluk dan menepuknya perlahan. Hal ini kulakukan bukan karena sering melihat film romantis, namun karena tak ada pilihan. Bayangkan jika kau ada di posisiku melihat ada seseorang yang menangis dan terlihat memilukan, apakah hatimu yang keras itu tidak meleleh untuk menenangkannya. Begitu pun andai ada yang merasakan betapa porak porandanya hatiku sekarang.
            “di sini ada orang loh, nanti mereka melihatmu menangis. bukan aku yang menangis ko’ rasanya aku yang malu yah?” kucoba mengiburnya.
            “aku tidak apa-apa” singkat namun menciptakan pertanyaan-pertanyaan lagi.
            Sepertinya tidak mungkin jika aku terus-menerus di kursi bersama wanita yang menangis tanpa alasan yang kuketahui ini. Aku juga punya masalah yang sebenarnya perlu kutangisi. Oh.. Tuhan, biarkan aku pergi dari tempat ini. Kuatkan aku meninggalkan wanita yang membisu ini. Kulepaskan pelukanku kemudian beridiri untuk meninggalkannya.
            “Tunggu” sambil memegang tanganku. Aku kembali duduk seperti semula.
            “iya, kenapa?” pertanyaan yang kuharap bisa menenangkannya.
            “aku mau bercerita. Maukah kau mendengarnya?"
            “aku akan mendengarkannya, bicaralah!” kami seolah-seolah pernah bertemu sebelumnya. Kegelisahannya seolah-olah terasa. Sorot matanya menyimpan duka membuatku tenggelam oleh rasa kasihan. “rasaku kusimpan saja dulu, biarlah wanita ini yang bercerita” ratapku dalam bisu
            “aku harus ke mana jika sudut dunia ini tidak pernah memberi ules kasih, rasanya sejak hari-hari kemarin aku tidak pernah seluka ini. meski aku bukanlah wanita beruntung yang mempunyai ibu dan ayah setidaknya semangat untuk hidupku setinggi langit. Tapi sekarang semangat itu patah. Dunia ini terlihat seperti arang yang sedikit lagi menjadi abu” sambil pandangannya lurus ke depan.
            “ada apa?” sedikit membawanya lebih ke dalam
           “mengapa Tuhan menghendaki kehidupan seperti ini buatku? Katanya Dia Maha adil, namun hingga aku ada di sini, di depanmu, rasanya Tuhan hanya memberiku satu dari dari sepuluh pemberianNya pada manusia yang lain. Ketika keyakinan pada keadilan Tuhan telah musnah oleh fetamorgana kehidupan, apakah aku sanggub untuk bertahan?” terlihat jelas pada wajahnya sebuah kejenuhan yang mendalam. Aku hanya terdiam berusaha mencerna “keadialan Tuhan” yang ia keluhkan itu. Tidak mungkin aku memberinya petuah tentang Tuhan dan menjelaskan dengan teori para filsuf. Terlalu panjang dan mungkin saja ia tidak bisa mencernanya dengan waktu yang singkat.
            “sebenarnya ada apa hingga keadilan Tuhan pun kamu keluhkan? Coba masuklah pada masalah yang sebenarnya. aku akan mendengarkannya sebelum pergi dari sini”
            “kamu punya ibu?” tanyanya sambil melihat ku dari kaki hingga ujung kepala.
“iya”
“punya ayah?” ia meraih tanganku membolak balik seperti ingin meramal.
“iya”
            “kamu punya anak?”
“belum, kenapa menanyakan anak? Wajahku seperti ibu-ibu yah? Sedikit ingin melunakkan kekakuanku oleh pertanyaannya ini.
“tidak, aku hanya bertanya. Siapa tahu kamu sudah punya anak” ia kembali terdiam sambil terus menggenggan tanganku. Ia kembali menangis. Seluruh badannya berbetar menahan isak tangis. Aku mencoba, mencoba lagi untuk bertanya.
“ada apa? Kenapa kamu menangis seperti ini?”
Sambil gemetar ia memulai ceritanya  lagi ,   
“dulu, sewaktu ayah dan ibuku pergi, aku mengatakan Tuhan adil, karena ia masih memberiku kesempatan untuk hidup. Setiap hari aku belajar tentang keadilan Tuhan padaku. Mulai dari makan, rumah bahkan tentang cibiran orang padaku, Pada anak yang orang tuanya tidak jelas. Aku berusaha bertahan, aku ingin menjadi orang yang baik. Aku selalu mengatakan Tuhan adil, aku tidak peduli seburuk apa aku di mata orang-orang. namun, saat aku hidup dengan pilihan yang berat, aku mulai ragu dengan Tuhan”
“kenapa?” kucondongkan lagi kepala ke depannya.
“aku hamil” sambil meletakkan tanganku di perutnya.
“terus yang salah di mana? Kamu sudah nikah?”
“aku hamil karena seorang lelaki memaksaku melayani nafsu bejatnya. Saat aku menjual makanan di sebuah terminal, ternyata ia memperhatikanku. Malam itu, ia memberiku jasa tumpangan. Diam-diam  ternyata ia membuntutiku hingga masuk ke dalam kos. Ia membawa sebila pisau dan mengancamku. Sekarang aku hamil 3 bulan dari seorang lelaki kampret itu. aku menangis bukan karena suka atau duka, tapi aku kasian pada anak ini. kehidupannya lebih buruk dariku. Selama ini aku berjuang untuk makan dan hidup bukan hasil dari menjual diri tapi ternyata ujung-ujungnya sama saja, aku wanita yang hamil di luar nikah. Hamil bukan karena mau sama mau tapi paksaan dari lelaki syetan. Aku benci, aku marah. Ketika diperkosa, pantaskah aku masih mengatakan Tuhan memang adil? Bisakah engkau menjawabnya?” sambil menghentakkan kakinya.
“sabar, kamu jangan seperti ini lihat sana orang-orang berbalik melihatmu. Husst... tenang yah, nanti aku bantu kamu mencari solusinya”
Pertemuan itu pun berakhir. Aku meminta nomor ponselnya dan berjanji untuk bertemu dengannya esok hari.
***
Tiba-tiba badanku remuk diterjang badai Keadilan Tuhan. semua pikiranku kembali bertumpu pada persoalan Tuhan dan lelaki. Aku tidak bisa menjawab pertanyaan “ketika diperkosa, pantaskah aku mengatakan Tuhan adil?”  malam ini aku  merasa sangat pusing. kurebahkan badan sambil menerawang seluruh sudut kamar mencari jawaban apa yang akan kuberikan pada wanita itu besok.
Kami janjian bertemu di tempat yang sama. Sudah 30 menit aku menungggu, namun tidak ada sedikit pun tanda-tanda ia akan datang. Sms yang aku kirim sejak pertama kali sampai tidak mendapatkan balasan. Sudahlah, aku harus menunggu lagi.
Menghadap awan di atas sana sambil menunggu, lumayan membuatku dapat melawan rasa jenuh.  4 jam menunggu,  kuputuskan untuk kembali. “Mungkin besok ia akan menemuiku” Sambil mencangklong tasku.
Seminggu sudah wanita yang kutemu itu tidak pernah membalas smsku. Sms yang kukirim hampir 20 setiap hari untuk menanyakan bagaimana perkembangannya. Sudahlah... mungkin ia sudah legah menceritakan bebannya atau sekarang sudah tidak menanyakan keadilan Tuhan lagi karena merasa lebih baik dari kemarin.
Kisah  siti Nurbaya pun kembali menjadi persoalan di benakku. Tuhan... apakah pertanyaan tentang keadilan yang dilontarkan wanita yang kutemui itu akan menjadi pertanyaanku juga.
Selang dua minggu, aku membaca sebuah surat kabar di halte bus tentang wanita hamil yang mati bunuh diri di jembatan gantung. Dari hasil penelusuran, namanya Sarah. Persis nama yang kusave saat meminta nomor wanita yang telah bertanya tentang keadilan Tuhan padaku dua minggu yang lalu.

“Mungkin kisah Siti Nur Baya sedikit lebih baik untukku ketimbang kisah wanita yang kutemui itu. pertanyaan tentang keadilanMu, biarlah kujawab esok jika bertemu lagi dengan Sarah"

Itu saja Tuhan.

Aku berjalan melewati lorong kecil itu untuk pulang. Tiba-tiba seorang gadis berperawakan kecil memakai jilbab tidak terlipat rapi terlihat ada di sampingku. Datang begitu saja. Mungkin karena aku tidak menoleh sama sekali, jadi tidak tahu dari mana datangnya. Pikirku saat dia menoleh padaku.
“sepertinya mendung ya? Sebentar lagi hujan” kata wanita itu lalu tersenyum padaku. Aku heran, lalu menegadah ke langit “secerah ini mau hujan? Entahlah apa yang ada di benak wanita ini” batinku. kutanggapi sewajarnya saja karena sepertinya orang yang ada di sampingku ini bukan orang waras. Ketusku sambil terus berjalan beriringan.
            Jam 22.00 aku terbangun dari tidur. Yah sehabis magrib aku tertidur karena kelelahan mengerjakan tugas kuliah 3 hari 3 malam. Tiba-tiba aku menangis. Suara tangisan anak kecil yang merasakan kesakitan kudengar dari mulutku. “ada apa ini? Apakah aku kesurupan?” kucoba menyebut namaNya. Yah... ini bukan kesurupan. Aku masih sadar. Teringatlah pada wanita yang kutemui tadi “mau hujan yah...” mungkin ini yang ia maksud. Aku terus menangis hingga malamku terasa sepi senyap tanpa siapa-siapa. Makan pun rasanya sudah tak  terpikirkan lagi malam itu.
***
Aku lupa kapan aku terakhir tertawa lepas tanpa beban. Ini bukan karena kisah rama dan sinta. Ini kisahku dengan Dia. Dia yang tak nampak namun selalu menegurku. Dia tak kasat mata tapi selalu ada di mataku. Aku mengenalNya sejak kecil. Sejak keluargaku memperkenalkannya. “inilah yang harus kau sembah dan percayai” aku manut saja karena memang ini ajaran orang tua.
Aku percaya Dia. Percaya dengan kitab dan Nabinya. Dengan membagi diriku dalam dunia dunia. Alam rasional dan irasional. Yang aku sesali, mengapa aku tak mampu menyerap ilmunya sebanyak mungkin. Tumpukan buku tentangnya tidak seperti caraku membaca novel-novel yang berbaris rapi di rak bukuku. Caraku berbicara tidak sefasih saat aku bercerita ulang tentang sebuah novel.
Akhir-akhir ini aku merasa sangat bersalah. Bersalah karena waktuku 24 tak cukup untuk mengenalNya lewat bacaan. 

Aku rasanya ingin tertawa lepas tanpa beban. itu saja Tuhan...



Cinta Tak Selamanya Bersama (katanya)

Rasanya ko’ rindu yah...
Aku rindu sama semua tentangmu. Tentang pertama kali pertemuan kita. Pertemuan yang tidak akan kulupakan hingga kapan pun. Itulah pertama kalinya ada seorang lelaki yang menyentuh  tangan dan menatapku. yang kuyakini penuh rasa sayang. Kadang di saat sendiri aku berfikir tentangmu, andai saja kita bisa hidup bersama, mungkin aku tak perlu sesusah ini untuk mengerjakan semuanya. Pasti kau akan membantu tiap melihatku bersusah payah. Aku sebenarnya sudah tidak sabar hidup denganmu. rasanya hanya engkau lelaki yang selalu membuatku tenang dan tidak ragu. Biasanya kebanyakan lelaki “aku tidak bisa hidup tanpamu” Tetapi saat aku tidak mengizinkannya hidup denganku, ternyata sampai sekarang dia masih hidup. konyol sekali kata-kata ini.
Mungkin karena aku lelah melihat lelaki yang ada di sekelilingku, dengan ribuan gombalannya, Membuatku selalu rindu denganmu. Engkau lelaki pertama yang membuatku sadar bahwa cinta adalah pengorbanan bukan janji.
Sungguh aku dililit rasa rindu. Bahkan di ruang gelap sekalipun. Apalagi jika melihat lelaki berlalu di depanku dengan sosok kedewasaannya. Benakku tiba-tiba penuh dengan bayangmu. Saat menulis ini, sebenarnya rasa rinduku sudah sampai ke ubun-ubun. Aku tak tahu harus berbuat apa.
***
Yah... aku sudah pergi dari tempatku tadi. Ada segerombolan wanita sedang tertawa terbahak-bahak. Sedang bercerita tantang semua orang yang lewat di depannya. Aku sedikit menguping, yang terdengar ada gendutlah, menorlah dan beberapa kalimat tidak terpuji lainnya (hahahha terpuji. Bahasanya serius bunget yah). Aku marah mendengar mereka karena ada beberapa kalimat yang ngena buanget di hatiku “gendut”. Oh... no aku jengkel sekali. Tadi aku rindu, sekarang jengkel, entahlah besok apalagi. Mungkin nangis kali yah... L
Sungguh...
aku rindu. Aku tidak main-main dengan rindu ini. aku rasanya ingin memeluk lelaki yang ada di depanku ini untuk merasakan kehangatan belaiannya. Tapi, tapi, tapi mana mungkin lelaki itu bukan siapa-siapaku. Dia hanya lewat dan tidak mengenaliku. Jika aku berani melakukan itu, aku akan jadi bahan perhatian oleh orang-orang. Dan dunia akan menertawaiku. Hihihi... ganjen banget.
Buyar...rinduku buyar gara-gara lelaki yang tadi di depanku. Ia pun pergi karena memang hanya singgah ngikat sepatu. Tiba-tiba saja. ada seseorang di hadapanku, Dia temanku. Orangnya lembut dan berkharisma. Ia dan aku jarang saling menyapa. Tapi kali ini ia seakan merasakan kegalauanku.
“eh... kenapa sendiri? sinta mana?” aku hanya terseyum.
“mau aku temani ga’? sambil duduk di sampingku
“oh... ga’ usah ini aku lagi sibuk” sambil berpura-pura membuka buku
“yah udah aku pergi yah..” berdiri dan meninggalkanku
Yah... aku menolak ajakan lelaki itu karena aku takut denganmu. Dulu kamu berpesan agar aku tidak terbiasa dengan lelaki.
meskipun berkharisma? iya, jawabmu. Mulai dari situ pesanmu kusimpan di ruang khusus di hatiku. Aku menyembunyikannya dan menyimpannya dengan baik. aku tidak mau ia hilang karena banyaknya lubang hitam di hatiku. Setidaknya pesanmu membuat hatiku tidak hitam legam.
Sekarang aku bersandar di dniding selasar mesjid. aku menikmati kesendirian ini. aku menatap kelangit dan menikmati suasana ini. aku tersenyum sambil membayangkan wajahmu. Banyak orang yang bilang wajah kita mirip. Mirip sekali. Ini yang membuatku yakin bahwa aku tidak sia-sia menangis karena merinduimu.
Ada dua pohon di depanku, daunnya hijau. Burung-burung bersiul menambah romantisnya tempat ini. 1 2 3 menit kadang ada daun dari kedua pohon itu yang jatuh. warnanya kuning. Tiba-tiba aku bertanya “apakaha besok cinta ini seperti daun yang jatuh karena sudah tua. Ia tidak bisa menjadi bagian dari sebuah pohon karena usianya. Ia tercecer terbang ke sana-kemari. Terinjak Lalu datanglah hujan yang membuatnya basah. si matahari datang membuatnya kering rapuh. Hingga akhirnya hilang ditelan bumi”.
Sekarang terasa ada air yang lewat di pipiku. Apakah itu keringat dari dahiku? Tunggu sebentar aku menyentuhnya. Ternyata air ini dari kedua bola mataku. Aku tak sadar, ternyata aku serapuh ini meyakini cinta kita.  Sudah puluhan tahun cinta kita berjarak karena perantauanmu di negeri sana. Namun karena usai pertemuan kita yang kuanggab pertema kalinya itu, aku kembali merangkai cinta ini untukmu meski kadang aku tidak yakin apakah cintamu ada buatku.
Aku rindu, aku ingin mendengar suaramu mengatakan “aku mencintamu”  namun jika engkau tidak ingin mengatakan itu, bagaimana jika aku mencari lelaki lain. Yang bisa menjagaku dan mencintaiku.  Apa, Jangan? Kenapa? Karena tidak ada yang bisa mencintaimu seperti cintaku. Jawabmu. ini yang membuatku tidak kuat jika rasa rindu ini datang.
Tuhan... tolong sampaikan rasa rindu ini. tiupkan di teliganya saat tertidur. Agar jika ia bangun maka wajahkulah yang pertama ia ingat.
Sekarang aku mulai menangis lepas. Air mataku kubiarkan jatuh. Biar saja dilihat orang-orang yang berlalu. Aku sudah tidak peduli. Aku benar-benar rindu. Aku berdiri dari tempatku tadi dan berjalan menuju kamar mandi. Di sana aku mengambil air wudhu “kalau ada sesuatu di hati kita ambillah air wudhu maka semuanya akan baik-baik saja” itu yang kuingat darimu wahai engkau yang membuatku merindu.
Aku kembali duduk di tempat semulah. Kali ini aku melihatmu datang padaku dengan gagah berani. kulihat kau membawa sepucuk surat di tangan kanan. Kau senyum padaku dan menghampiri dengan mata berbinar-binar. Rasanya aku ingin terbang saking senangnya.
“ini surat untukmu” meraih tanganku kemudian berbalik lalu meninggalkanku. Ada apa ini? mengapa engkau pergi lagi?. Aku sudah jenuh menunggumu. Tapi mengapa kau hanya 10 kedipan mata berada di depanku?. Aku kalap, aku tak tahu harus bagaimana, aku ingin mengajarmu tapi rasanya kaki ini berat untuk melangkah. Lalu teringatlah aku pada dedaunan yang jatuh itu. seperti itulah kisah cinta kita. Cinta yang berguguran oleh waktu. Aku menangis merintih. Kubuka perlahan suratmu, kubaca dengan sejuta harapan bahwa engkau telah mengajakku untuk hidup bersama.
“Nak, cinta itu tidak selamanya harus bersama. Cinta tidak harus saling memiliki. Ayah tahu bahwa tak mudah engkau merasakan sendiri cinta. ayah paham nak. Ayah mungkin lebih sakit darimu. Tapi ayah tidak akan pernah mengatakan bahwa cinta kita seperti daun. Tetapi cinta kita seperti kapal pinisi, semakin lama ia di lautan makin kuat pula kayunya. Ingat bahwa cinta tak harus memiliki. Jaga dirimu baik-baik. ingat nak cinta tidak harus memiliki. Ayah tetap sayang padamu walau sulit bahkan mustahil kita berada dalam satu atap. Sekali lagi nak ayah katakan “cinta tak harus memiliki” begitu pun esok ketika egkau menyukai seorang lelaki. jangan pernah bersedih jika cintamu tak sampai. Titip dirimu untuk ayah. Jaga baik-baik yah. Jangan mengecewakan aku dan wanita pilihan ayah dahulu ”
... aku terbangun dari mimpi itu. setelah wudhu tadi, aku tertidur di selasar mesjid. duh.. ayah mungkin aku terlalu lelah  memikirkanmu. 

pelacur dan sepotong kenangan di kota itu...


            Aku butuh senyum, cinta, kasih sayang, dan perhatian. Aku sangat membutuhkan ini. Aku ingin membungkusnya menjadi sebuh kado paling indah untuknya. Wanita yang telah lama kukenal. Dia tak begitu dekat denganku, tetapi aku tahu dia orang baik yang terjebak dalam dunia yang tak semestinya.
            Gumuk-gumuk pasir di pesisir pantai di kota itu membuat selalu terpana.  Tapi tidak kali ini. Binatang-binatang pantai seolah menatapku sayu dan bergumam “Bagaimana kabarnya wanita yang pernah  kulihat di sini bersamamu?”  aku terdiam, terpekur.
“dunia ini tak semudah yang orang kaya’ bayangkan. Tak seindah ulama ceramakan, tak semudah penulis menceritakan. Jika dunia muda untuk dijalani, mengapa wanita itu pergi dan menghilang dariku. Wanita yang baik berubah menjadi jahat. Wanita yang pendiam tiba-tiba menjadi kasar, wanita yang tak pernah tersentuh, kini menjadi wanita sentuhan lelaki bejat yang tak punya malu. Menghamburkan uang hanya untuk tidur semalam dengan wanita yang dianggab dapat memuaskan nafsunya.”
            Tiba-tiba seorang lelaki menghampiriku, aku masih menunduk melihat air mataku yang terus berjatuhan di gumuk-gumuk pasir putih itu. lelaki itu tetap berada di sampingku, aku memperhatikan kakinya lalu menengadah untuk melihat wajahnya. Masih belum jelas di pandanganku. Kuusap mataku dan mengucek-ngucek 2, 3 kali. Kuperhatikan dengan seksama lelaki itu. dia memakai baju putih yang lengannya telah tersingsing. Memakai kopiah putih dan sedikit berjengkot tipis. Dia menguluran tangannya hendak mengajakku berdiri. Aku kembali menunduk. Aku tak peduli dengan ajakannya. Aku tidak butuh dengan dia. Yang aku butuhkan adalah wanita itu.
            Ia masih berada di dekatku. Asyik memadangi wajahku yang sebenarnya tidak menyenangkan untuk dipandang. “salamualaaiakum Alena” suaranya mengajakku untuk menoleh padanya. kulihat wajahnya lebih dekat lagi, ternyata dia adalah temanku semasa sekolahan. Sekarang dia sudah dewasa. Sorot matanya masih seperti dulu yang selalu melihatku penuh perhatian. Sekarang dia seorang ustad yang beta dengan hidupnya yang bagiku tidak mengasyikkan. Hanya tinggal dilingkungan sekolah. Setiap hari memakai sarung dan kopiah. Mengajarkan ilmu agama kepada orang-orang. bahkan perjumpaanku hari ini pun akan menjadi ladang pahala buatnya karena akan memberiku cerama atas keluhanku pada dunia. Ia duduk di sampingku dengan mengatur jarak.
            “kamu kenapa?, belum usaikah masalah-masalahmu yang dulu waktu kita sama-sama sekolah?” dia tersenyum sambil melihatku memandangi pantai yang terhempas deburan ombak. Sekrang posisi kami sama. Menghadap ke pantai sambil memeluk lutut. Suara burung cemara semelantunkan melodi membawa perbincanganku dengannya.
            “Aku butuh kasih sayang, cinta dan perhatian” seraya terus menatap deburan ombak.
            “oh... sangat klasik sekali kata-kata itu macam zaman Roma Irama saja” tertawa kecil
            “sungguhh, betapa tak mengertinya orang di sampingku ini” aku   menggelengkan kepala.
        “kenapa terlalu sibuk dengan dunia. Bukankah dunia ini hanya sementara” mendengar kata-katanya, aku sedikit berujar dalam diam emang dunia Cuma    24 jam.
            “bagimu keinginanku klasik, karena  yang kau lalui tak seperti wanita itu.  Bagimu kasih sayang itu tak penting untuk dibahas. Karena Al-qur’an cukup untuk menenangkan hati yang gunda. Kamu kebanyakan baca buku cerama dan mengikuti acara-acara motivator”
            “jangan bilang begitu. Nanti kamu berdosa” memotong pembicaraanku
            “kenapa aku berdosa? Ada yang salah dariku? Aku hanya mengutarakan apa  yang orang lain rasakan” aku mulai tersenyum dengan ombrolan ini, obrolan   yang tak ada jawabnya kemudian. Yakinku.
“kenapa kamu berubah? Tak yakinkah engkau pada Allah setelah kau sekolah jauh?”
           Aku berbalik melihatnya. Kini posisiku berubah. Aku melihat wajahnya. Wajah yang kutahu ingin menatapku juga. Tapi dari dulu dia tak berubah. Dia tidak mau saling bertatapan denganku. Katanya dia takut ada dosa di antara kami. Ini klasik bagiku. Entahla jika bukan aku wanita yang di dekatnya.
     “aku tidak berubah, masih seperti dulu. Masih berjalan dengan kitab yang aku yakini kebenarannya. Masih mengingat pesan Guru kita. Sini, dekatlah sedikit”  perintahku
            “aku tidak mau. Di sini saja” aku tahu dia tidak mungkin tergoda denganku
“ya sudah, aku ulang lagi pertanyaanku: dunia ini tak semudah yang orang kaya bayangkan. Tak seindah ulama ceramakan, tak semudah penulis menceritakan. Jika dunia muda untuk dijalani, mengapa wanita itu pergi dan menghilang dariku. Wanita yang baik yang berubah menjadi jahat. Wanita yang pendiam tiba-tiba menjadi kasar, wanita yang tak pernah tersentuh, kini menjadi wanita sentuhan lelaki bejat yang tak punya malu. Menghamburkan uang hanya untuk tidur semalam dengan wanita yang dianggab dapat memuaskan nafsunya. Mengapa?
           “kamu seakan tak punya iman saja. menagapa bertanya tentang hal sepele seperti ini. Yang jawabannya sangat singkat?” seperti inilah tanggapan lelaki yang paling terkenal kepintarannya waktu aku dengannya masih duduk di bangku sekolah.
            “mengapa?” suaraku tertelan ombak yang terus menghempas karang-karang yang kuat.  kuulang lagi dengan nada tinggi, “MENGAPA”? Lama kami terdiam usai teriakanku.
            “karena wanita itu tak punya iman. Andai dia punya iman yang kuat pasti dia   Bertahan dengan semua ujian yang Allah berikan. Tak mungkin dia berubah  menjadi jahat, pemarah bahkan menjadi pemuas nafsu lelaki” memulai kembali pembicaraan.
            “mudah sekali kita melewatinya dengan kata-kata iman” ujarku sambil mengaduk-   ngaduk pasir pantai yang ada di dekatku.
            “kamu ragu dengan kalimatku barusan?”
            “belum menjadi kalimat saja aku sudah ragu. Mau tahu kenapa? Bukan karena siapa-siapa dan apa-apa. Tetapi karena aku sendiri tak bisa menjawab pertanyaan wanita itu. wanita yang kukenal di sini. Di daerah ini untuk pertama kalinya.
            “dulu aku pernah mengatakan hal ini kepada wanita itu, tentang iman  yang kau katakan tadi. Tapi dengan marah seakan ingin memotong batang leherku, ia mengatakan, kamu berbicara iman karena kau sekolah di sekolah yang mengajarkan syurga-neraka. Sedangkan aku, aku tidak sekolah. Aku hanya tamat SD. Tak pernah tersentuh ajaran agama kita. Mau bilang aku tidak berusaha? Aku berusaha tapi aku tidak punya uang. bisa dikatakan aku anak jalanan. Setiap hari hanya mencari uang untuk mengisi perut. Kamu menyuruhku menutup aurat agar lelaki tak mengincarku? Pantaskah aku memakai jilbab sedangkan aku menjual diri?. Menyuruhku membaca al-qur’an? Pelajari hurufnya saja tak pernah. Hidup kita berbeda. Kesalahanku ini bukan dariku tapi orang tuaku yang tak pernah ada di dunia ini. Orang tuaku tak ada. mau salahkan siapa ketika aku tumbuh di jalan yang tidak benar. Sedangkan aku tak tak tahu saat itu bahwa kehidupanku hancur bila terus berada di jalan itu. sudahlah, memang jalan kita berbeda. tumbuh tampa dijamah lelaki adalah pilihan wanita  tapi bagaiman jika pilihan wanita untuk tumbuh adalah jamahan lelaki??? Bisakah kau jawab???. Tahu tidak, lidahku keluh mendengar semuanya. Aku tiba-tiba teringat denganmu yang tumbuh sebagai anak seorang ulama. Ayahmu penghafal al-qur’an dan ilmunya banyak. Pantaslah kamu dikatakan shaleh. Saudara perempuanmu dididik untuk menutup aurat dan mengaji. Tidak boleh pacaran hingga ada lelaki yang datang kepada ayahmu. Tapi wanita itu? masihkah kau menyalahkan dia karena keimanan?
                         Dan sekarang aku masih mencari jawabannya. Aku bersalah telah menyalahkannya. Bukan itu, bukan itu seharusnya yang kulakukan. Tetapi membantunya dengan uang. Agar bisa mengubah diri dan mencari iman melalui pendidikan. Karena tak ada yang gratis di dunia ini. Masihkah kau mengatakan dunia ini singkat? Jika singkat, aku mau berpuasa saja jika uangku tak ada. tinggal menunggu mati saja kan? tapi tidak, aku butuh uang untuk menunggu ajalku datang menjemput. Karena aku mau makan dan hidup.
Dia tertunduk mendengar semuanya. Dia tak menjawab. Aku berdiri,
“semoga perjumpaan kita kali ini bermanfaat. Titip salam buat ayahmu dan anaknya lelakinya yang sekarang sudah menjadi ustad” aku berbalik meninggalkannya.
“tunggu, katanya kamu butuh cinta, perhatian dan kasih sayang?” menahanku        meninggalkannya.
             “sudahlah... hal seperti itu hanya masalah klasik kan?. Aku membutuhkan hal itu, sebenarnya untuk kubagikan pada wanita itu. tapi tak kutemukan padamu. Kamu hanya mengandalkan imanmu namun tak peduli dengan orang lain. Sekarang, adalah perpisahan kita, aku sudah kehilangan wanita itu, dan aku juga mau kamu hilang dalam hidupku. Biarkan ilmu mempertemukan kita. Dan wanita itu biarlah jadi kenangan bagiku tiap ada di kota ini”
            Aku pun terus pergi meninggalkannya bersama butiran pasir dan binatang laut melepas       yang kepergianku.

“Suatu saat ilmu itu yang mempertemukan kita. Mencari ilmu sebanyak mungkin dengan mengetahui hakikat dari ilmu itu. iman tak segampang dan semudah yang kita lihat. Karena iman ada di dada. Mencarinya tak mudah. Butuh dunia untuk mengenalinya”.

Barru. Di laut yang tak pernah kulupakan itu