Laoki Mai Uangkalingai Caritata...


“Aku ingin memelukmu jika masalah kian hari terlihat seperti bukit uhud. Aku ingin bersandar di dadamu untuk mengatakan “bantu aku merasakan ini semua”
Aku bak ayam kehilangan induk tak dapat berteduh di balik bulu tebalnya. Entah harus berkata apa, yang kurasakan sekarang hanya ada hitam “tau ah.. gelap”. Aku merasakan sedikit demi sedikit kesabaranku terkikis.
Aku butuh engkau, aku  butuh engkau...
Setidaknya untuk melihat air mataku.
Tuhan...
Bak untuk menampung air mataku sudah tak berfungsi. Salahkah jika ditumpahkan begitu saja.
aku terjebak masalah. aku ingin lari saja menemui ayah...
          seperti inilah yang diucapkan seseorang saat aku duduk di samping kanannya. seolah-olah  Ia marah dengan keadaan yang menghimpitnya. Jika kukatakan “sabar yah” ia tiba-tiba menyerangku bagai srigala menemui mangsa “aku sudah sabar berpuluh-puluh tahun” apalagi jika ia mengeluarkan kata “andai kamu yang merasakannya” tiba-tiba lidahku kelu.
          Iya aku bisa merasakan cerita orang itu. yaitu saat ibu dan ayahnya berpisah, ia menyandarkan sebagian hatinya untuk bertahan hidup pada seorang seseorang yang pernah berjanji ingin hidup bersamanya.
          Namun keinginan tak selamanya sejalan dengan takdir. orang yang ia sayangi ternyata memilih yang lain. Meski menurutku ini adalah cerita klasik, tapi tak semudah yang orang lain bayangkan.
Jadi apa yang bisa kulakukan?
Aku hanya terdiam, tiba-tiba seluruh ingatanku bertumpu pada sejarah.
“Hei kenapa kamu diam?” ia mulai marah padaku karena tidak menjawab pertanyaanya.
Kujawab dengan liri “karena aku juga merasakan hal itu”
__Tapi bukankah Tuhan memberi cobaan karena kita beda dari yang lainnya. J__



CMBK (cinta monyet bersemi kembali)


Setiap bulan aku tak pernah melewati untuk mengisi si Hijau nama special yang kuberikan pada blogku yang baik. dia selalu memuat apa yang igin kuceritakan tanpa pernah mengeluh sedikit pun. Dari si hijaulah, banyak orang pengguna goole mengajakku berkenalan. Yah... untuk bertukar pendapat mengenai blog dan tuisanku yang tidak sedikit orang mencela dan memujinya.
Tak terasa bulan april sudah berakhir kewajibanku memberi makan si hijau hampir  terlupakan karena menulis di tempat lain. Namun walau sedikit mepet aku akan bercerita pada si hijau tentang cerita cinta yang belakangan ini sedikit menggelitik yang entah kenapa aku tergoda untuk menulisnya. Cekidot!!!
 CMBK (cinta monyet bersemi kembali) 
Siapa yang tidak pernah merasakan cinta monyet? Bohong kalau tidak. Atau mungkin cinta kucing (malu-malu tuk ngungkapin). Sejarah cintaku dengan dia dimulai tahun 2006. Seingatku, waktu itu aku masih kelas 1 SMP alias 1 Mts. Benar, aku anak pesantren waktu itu.
Dia seniorku beberapa tahun di atas.  Yah.. hanya sempat menggodaku lalu ia lulus. Dan godaannya itu setiap malam menghantui. Aku menyimpan salam yang ia titip lewat temannya di dalam hatiku rapat-rapat.
Beberapa tahun tak pernah ada kabar, kata temanku ia lanjut di luar negeri. Tapi entah luar  negerinya di mana.
Setelah salam yang ia pernah titip itu berkarat akibat tak terurus dengan sapaannya. Aku sudah membuangnya jauh-jauh. Apalagi ditambah beberapa manusia yang mengajakku berkenalan. Meski kuakui sesekali aku berfkir tentangnya “seperti apa yah... dia sekarang”
Sampailah suatu ketika aku bertemu dengannya di suatu sosial media. Awalnya aku tak begitu merespon tapi setelah ia berdogeng mengingatkanku tentang masa jahiliyah dulu saat aku begitu menggebu-gebu dengan salam yang ia titipkan. Aku mulai mengingat semuanya. Hatiku tak karuan. Aku ingin menolak pernah melewati masa itu. tapi setelah ia katakan “katanya kamu mencariku” hatiku pecah. Tiap pecahannya berteriak “aku menunggu sejak pertama kali kau mentipkan salam”
          Letupan cinta di hatiku kian terdengar nyaring. Seketika aku mengingat lirik lagu afgan “jodoh pasti bertemu”. Wajahku makin merona saat ia katakan aku sudah terlihat dewasa ketimbang terakhir melihatku di kelas 1 smp (iyalah itu sudah 8 tahun yang lalu).
          Ia juga bercerita kalau ia sekarang sudah punya pekerjaan dan rumah. Terakhir yang membuatku hampir pingsan saat ia mengatakan ingin ke rumahku. Sedikit jaim aku menjawab “terserah”
          Kejutan yang ia berikan dan tak akan terlupakan dibulan april adalah saat ia datang ke rumah denga membawa keluarga.
          “Tuhan ... ini bukan bahagia tapi musibah” saat diantara keluarganya berbisik sambil menyambut uluran tanganku “perkenalkan aku Ana, istri ka’ dodo (nama disamarkan).
          Menyusul seminggu kemudian kudapati inboxku berisi “itu istriku, kamu miripkan”
          Hahahah....  aku sedikit tertawa selebihnya sakit. Tapi sudahlah... ini cinta monyet yang selamanya jadi monyet. Aku hanya  menunggu cinta yang luar biasa dengan segudang cita-cita yang telah kususun.
          Kepada si Hijauku sayang...
“Sekarang aku  lebih mencintaimu, ketimbang dia” sambil memelas menerima takdir.

__Tuhan lebih tahu cinta seperti apa yang terbaik untuk hambanya__





Siti dan sepenggal pertanyaan Sarah


            Kaki ini masih terseret oleh pikiran yang membumbung tinggi tak tentu arah. Aku berjalan sudah lima jam namun tak kutemukan tempat untuk duduk menyandarkan beban badan. “Biarlah, di depan sana mungkin akan ada tempat istirahat” sambil terus berjalan. Tak begitu lama, ada tempat yang nyaman dan tak banyak orang. tapi sepertinya tidak ada penjual makanan. Sudahlah, duduk berselonjor sedikit harus disyukuri.
            Aku duduk  di sebuah kursih panjang yang terbuat dari besi. Kusandarkan badanku lalu memejamkan mata. “ada apa aku ini, rasanya hatiku penuh. Masalah itu hadir sedemikian rupa membuatku tersesat” kuhirup udara yang tidak baik untuk dihirup itu. biarlah.
            “Seminggu sudah aku merasakan hal yang aneh. Pilihan berat itu harus ku jalani. Dulu aku merasa ini hanyalah cerita Siti NurBaya yang berlaku pada masanya. Cerita yang berganti masa dengan tayangan yang lebih menarik. Seperti film bioskop laskar pelangi, sang pencerah dan film lainnya yang mengangkat tentang semangat hidup tapi ternyata ini berlaku padaku wanita yang lahir di akhir abad ke 20. Jika membayangkan, rasanya hatiku  mengundang bau busuk untuk muntah,” Gumamku.
            Kubuka perlahan mataku, kurasakan ada yang duduk di kursi yang sama. Aku menoleh ke kanan. Yah... ada wanita yang umurnya sebayalah denganku. Tatapannya kosong dan garis wajah mengendor mungkin akibat Power Failure alias koslet. Ah... untuk kali ini tidak usahlah bersimpati, masih banyak masalah yang harus kuemban juga.
            Sekita 30 menit aku duduk di kursi panjang bisu itu, namun sama sekali belum ada satupun jalan keluar yang kutemui. Wanita itu? ternyata masih bersamaku juga. Posisinya berubah, ia mengangkat kakinya untuk memeluk lutut dan menundukkan kepala. Dan kendati aku berusaha pergi dari gerak-gerik wanita yang di sampingku ini, rasanya tidak bisa. gejolak untuk menenangkannya lebih besar ketimbang menenangkan  hatiku sendiri. Kucoba mendekatinya dengan menggeser sedikit demi sedikit badanku ke dekatnya.
            “eh.. kenapa? Ada yang bisa aku bantu?” sambil menyentuh lututnya. Ia tak merespon, malah memeluk erat-erat kedua lututnya. Aku tidak menyerah, aku berusaha agar dia tidak terlihat seperti memikul beban hingga aku meninggalkan tempat ini. setidaknya aku pergi dengan melihat orang lain sedikit melupakan masalahnya. Tiba-tiba saja ia menangis tak terkendali. Aku panik, entah apa yang harus aku lakukan, dengan sedikit ragu kuranggul bahunya kemudia kupeluk dan menepuknya perlahan. Hal ini kulakukan bukan karena sering melihat film romantis, namun karena tak ada pilihan. Bayangkan jika kau ada di posisiku melihat ada seseorang yang menangis dan terlihat memilukan, apakah hatimu yang keras itu tidak meleleh untuk menenangkannya. Begitu pun andai ada yang merasakan betapa porak porandanya hatiku sekarang.
            “di sini ada orang loh, nanti mereka melihatmu menangis. bukan aku yang menangis ko’ rasanya aku yang malu yah?” kucoba mengiburnya.
            “aku tidak apa-apa” singkat namun menciptakan pertanyaan-pertanyaan lagi.
            Sepertinya tidak mungkin jika aku terus-menerus di kursi bersama wanita yang menangis tanpa alasan yang kuketahui ini. Aku juga punya masalah yang sebenarnya perlu kutangisi. Oh.. Tuhan, biarkan aku pergi dari tempat ini. Kuatkan aku meninggalkan wanita yang membisu ini. Kulepaskan pelukanku kemudian beridiri untuk meninggalkannya.
            “Tunggu” sambil memegang tanganku. Aku kembali duduk seperti semula.
            “iya, kenapa?” pertanyaan yang kuharap bisa menenangkannya.
            “aku mau bercerita. Maukah kau mendengarnya?"
            “aku akan mendengarkannya, bicaralah!” kami seolah-seolah pernah bertemu sebelumnya. Kegelisahannya seolah-olah terasa. Sorot matanya menyimpan duka membuatku tenggelam oleh rasa kasihan. “rasaku kusimpan saja dulu, biarlah wanita ini yang bercerita” ratapku dalam bisu
            “aku harus ke mana jika sudut dunia ini tidak pernah memberi ules kasih, rasanya sejak hari-hari kemarin aku tidak pernah seluka ini. meski aku bukanlah wanita beruntung yang mempunyai ibu dan ayah setidaknya semangat untuk hidupku setinggi langit. Tapi sekarang semangat itu patah. Dunia ini terlihat seperti arang yang sedikit lagi menjadi abu” sambil pandangannya lurus ke depan.
            “ada apa?” sedikit membawanya lebih ke dalam
           “mengapa Tuhan menghendaki kehidupan seperti ini buatku? Katanya Dia Maha adil, namun hingga aku ada di sini, di depanmu, rasanya Tuhan hanya memberiku satu dari dari sepuluh pemberianNya pada manusia yang lain. Ketika keyakinan pada keadilan Tuhan telah musnah oleh fetamorgana kehidupan, apakah aku sanggub untuk bertahan?” terlihat jelas pada wajahnya sebuah kejenuhan yang mendalam. Aku hanya terdiam berusaha mencerna “keadialan Tuhan” yang ia keluhkan itu. Tidak mungkin aku memberinya petuah tentang Tuhan dan menjelaskan dengan teori para filsuf. Terlalu panjang dan mungkin saja ia tidak bisa mencernanya dengan waktu yang singkat.
            “sebenarnya ada apa hingga keadilan Tuhan pun kamu keluhkan? Coba masuklah pada masalah yang sebenarnya. aku akan mendengarkannya sebelum pergi dari sini”
            “kamu punya ibu?” tanyanya sambil melihat ku dari kaki hingga ujung kepala.
“iya”
“punya ayah?” ia meraih tanganku membolak balik seperti ingin meramal.
“iya”
            “kamu punya anak?”
“belum, kenapa menanyakan anak? Wajahku seperti ibu-ibu yah? Sedikit ingin melunakkan kekakuanku oleh pertanyaannya ini.
“tidak, aku hanya bertanya. Siapa tahu kamu sudah punya anak” ia kembali terdiam sambil terus menggenggan tanganku. Ia kembali menangis. Seluruh badannya berbetar menahan isak tangis. Aku mencoba, mencoba lagi untuk bertanya.
“ada apa? Kenapa kamu menangis seperti ini?”
Sambil gemetar ia memulai ceritanya  lagi ,   
“dulu, sewaktu ayah dan ibuku pergi, aku mengatakan Tuhan adil, karena ia masih memberiku kesempatan untuk hidup. Setiap hari aku belajar tentang keadilan Tuhan padaku. Mulai dari makan, rumah bahkan tentang cibiran orang padaku, Pada anak yang orang tuanya tidak jelas. Aku berusaha bertahan, aku ingin menjadi orang yang baik. Aku selalu mengatakan Tuhan adil, aku tidak peduli seburuk apa aku di mata orang-orang. namun, saat aku hidup dengan pilihan yang berat, aku mulai ragu dengan Tuhan”
“kenapa?” kucondongkan lagi kepala ke depannya.
“aku hamil” sambil meletakkan tanganku di perutnya.
“terus yang salah di mana? Kamu sudah nikah?”
“aku hamil karena seorang lelaki memaksaku melayani nafsu bejatnya. Saat aku menjual makanan di sebuah terminal, ternyata ia memperhatikanku. Malam itu, ia memberiku jasa tumpangan. Diam-diam  ternyata ia membuntutiku hingga masuk ke dalam kos. Ia membawa sebila pisau dan mengancamku. Sekarang aku hamil 3 bulan dari seorang lelaki kampret itu. aku menangis bukan karena suka atau duka, tapi aku kasian pada anak ini. kehidupannya lebih buruk dariku. Selama ini aku berjuang untuk makan dan hidup bukan hasil dari menjual diri tapi ternyata ujung-ujungnya sama saja, aku wanita yang hamil di luar nikah. Hamil bukan karena mau sama mau tapi paksaan dari lelaki syetan. Aku benci, aku marah. Ketika diperkosa, pantaskah aku masih mengatakan Tuhan memang adil? Bisakah engkau menjawabnya?” sambil menghentakkan kakinya.
“sabar, kamu jangan seperti ini lihat sana orang-orang berbalik melihatmu. Husst... tenang yah, nanti aku bantu kamu mencari solusinya”
Pertemuan itu pun berakhir. Aku meminta nomor ponselnya dan berjanji untuk bertemu dengannya esok hari.
***
Tiba-tiba badanku remuk diterjang badai Keadilan Tuhan. semua pikiranku kembali bertumpu pada persoalan Tuhan dan lelaki. Aku tidak bisa menjawab pertanyaan “ketika diperkosa, pantaskah aku mengatakan Tuhan adil?”  malam ini aku  merasa sangat pusing. kurebahkan badan sambil menerawang seluruh sudut kamar mencari jawaban apa yang akan kuberikan pada wanita itu besok.
Kami janjian bertemu di tempat yang sama. Sudah 30 menit aku menungggu, namun tidak ada sedikit pun tanda-tanda ia akan datang. Sms yang aku kirim sejak pertama kali sampai tidak mendapatkan balasan. Sudahlah, aku harus menunggu lagi.
Menghadap awan di atas sana sambil menunggu, lumayan membuatku dapat melawan rasa jenuh.  4 jam menunggu,  kuputuskan untuk kembali. “Mungkin besok ia akan menemuiku” Sambil mencangklong tasku.
Seminggu sudah wanita yang kutemu itu tidak pernah membalas smsku. Sms yang kukirim hampir 20 setiap hari untuk menanyakan bagaimana perkembangannya. Sudahlah... mungkin ia sudah legah menceritakan bebannya atau sekarang sudah tidak menanyakan keadilan Tuhan lagi karena merasa lebih baik dari kemarin.
Kisah  siti Nurbaya pun kembali menjadi persoalan di benakku. Tuhan... apakah pertanyaan tentang keadilan yang dilontarkan wanita yang kutemui itu akan menjadi pertanyaanku juga.
Selang dua minggu, aku membaca sebuah surat kabar di halte bus tentang wanita hamil yang mati bunuh diri di jembatan gantung. Dari hasil penelusuran, namanya Sarah. Persis nama yang kusave saat meminta nomor wanita yang telah bertanya tentang keadilan Tuhan padaku dua minggu yang lalu.

“Mungkin kisah Siti Nur Baya sedikit lebih baik untukku ketimbang kisah wanita yang kutemui itu. pertanyaan tentang keadilanMu, biarlah kujawab esok jika bertemu lagi dengan Sarah"

Itu saja Tuhan.

Aku berjalan melewati lorong kecil itu untuk pulang. Tiba-tiba seorang gadis berperawakan kecil memakai jilbab tidak terlipat rapi terlihat ada di sampingku. Datang begitu saja. Mungkin karena aku tidak menoleh sama sekali, jadi tidak tahu dari mana datangnya. Pikirku saat dia menoleh padaku.
“sepertinya mendung ya? Sebentar lagi hujan” kata wanita itu lalu tersenyum padaku. Aku heran, lalu menegadah ke langit “secerah ini mau hujan? Entahlah apa yang ada di benak wanita ini” batinku. kutanggapi sewajarnya saja karena sepertinya orang yang ada di sampingku ini bukan orang waras. Ketusku sambil terus berjalan beriringan.
            Jam 22.00 aku terbangun dari tidur. Yah sehabis magrib aku tertidur karena kelelahan mengerjakan tugas kuliah 3 hari 3 malam. Tiba-tiba aku menangis. Suara tangisan anak kecil yang merasakan kesakitan kudengar dari mulutku. “ada apa ini? Apakah aku kesurupan?” kucoba menyebut namaNya. Yah... ini bukan kesurupan. Aku masih sadar. Teringatlah pada wanita yang kutemui tadi “mau hujan yah...” mungkin ini yang ia maksud. Aku terus menangis hingga malamku terasa sepi senyap tanpa siapa-siapa. Makan pun rasanya sudah tak  terpikirkan lagi malam itu.
***
Aku lupa kapan aku terakhir tertawa lepas tanpa beban. Ini bukan karena kisah rama dan sinta. Ini kisahku dengan Dia. Dia yang tak nampak namun selalu menegurku. Dia tak kasat mata tapi selalu ada di mataku. Aku mengenalNya sejak kecil. Sejak keluargaku memperkenalkannya. “inilah yang harus kau sembah dan percayai” aku manut saja karena memang ini ajaran orang tua.
Aku percaya Dia. Percaya dengan kitab dan Nabinya. Dengan membagi diriku dalam dunia dunia. Alam rasional dan irasional. Yang aku sesali, mengapa aku tak mampu menyerap ilmunya sebanyak mungkin. Tumpukan buku tentangnya tidak seperti caraku membaca novel-novel yang berbaris rapi di rak bukuku. Caraku berbicara tidak sefasih saat aku bercerita ulang tentang sebuah novel.
Akhir-akhir ini aku merasa sangat bersalah. Bersalah karena waktuku 24 tak cukup untuk mengenalNya lewat bacaan. 

Aku rasanya ingin tertawa lepas tanpa beban. itu saja Tuhan...



Cinta Tak Selamanya Bersama (katanya)

Rasanya ko’ rindu yah...
Aku rindu sama semua tentangmu. Tentang pertama kali pertemuan kita. Pertemuan yang tidak akan kulupakan hingga kapan pun. Itulah pertama kalinya ada seorang lelaki yang menyentuh  tangan dan menatapku. yang kuyakini penuh rasa sayang. Kadang di saat sendiri aku berfikir tentangmu, andai saja kita bisa hidup bersama, mungkin aku tak perlu sesusah ini untuk mengerjakan semuanya. Pasti kau akan membantu tiap melihatku bersusah payah. Aku sebenarnya sudah tidak sabar hidup denganmu. rasanya hanya engkau lelaki yang selalu membuatku tenang dan tidak ragu. Biasanya kebanyakan lelaki “aku tidak bisa hidup tanpamu” Tetapi saat aku tidak mengizinkannya hidup denganku, ternyata sampai sekarang dia masih hidup. konyol sekali kata-kata ini.
Mungkin karena aku lelah melihat lelaki yang ada di sekelilingku, dengan ribuan gombalannya, Membuatku selalu rindu denganmu. Engkau lelaki pertama yang membuatku sadar bahwa cinta adalah pengorbanan bukan janji.
Sungguh aku dililit rasa rindu. Bahkan di ruang gelap sekalipun. Apalagi jika melihat lelaki berlalu di depanku dengan sosok kedewasaannya. Benakku tiba-tiba penuh dengan bayangmu. Saat menulis ini, sebenarnya rasa rinduku sudah sampai ke ubun-ubun. Aku tak tahu harus berbuat apa.
***
Yah... aku sudah pergi dari tempatku tadi. Ada segerombolan wanita sedang tertawa terbahak-bahak. Sedang bercerita tantang semua orang yang lewat di depannya. Aku sedikit menguping, yang terdengar ada gendutlah, menorlah dan beberapa kalimat tidak terpuji lainnya (hahahha terpuji. Bahasanya serius bunget yah). Aku marah mendengar mereka karena ada beberapa kalimat yang ngena buanget di hatiku “gendut”. Oh... no aku jengkel sekali. Tadi aku rindu, sekarang jengkel, entahlah besok apalagi. Mungkin nangis kali yah... L
Sungguh...
aku rindu. Aku tidak main-main dengan rindu ini. aku rasanya ingin memeluk lelaki yang ada di depanku ini untuk merasakan kehangatan belaiannya. Tapi, tapi, tapi mana mungkin lelaki itu bukan siapa-siapaku. Dia hanya lewat dan tidak mengenaliku. Jika aku berani melakukan itu, aku akan jadi bahan perhatian oleh orang-orang. Dan dunia akan menertawaiku. Hihihi... ganjen banget.
Buyar...rinduku buyar gara-gara lelaki yang tadi di depanku. Ia pun pergi karena memang hanya singgah ngikat sepatu. Tiba-tiba saja. ada seseorang di hadapanku, Dia temanku. Orangnya lembut dan berkharisma. Ia dan aku jarang saling menyapa. Tapi kali ini ia seakan merasakan kegalauanku.
“eh... kenapa sendiri? sinta mana?” aku hanya terseyum.
“mau aku temani ga’? sambil duduk di sampingku
“oh... ga’ usah ini aku lagi sibuk” sambil berpura-pura membuka buku
“yah udah aku pergi yah..” berdiri dan meninggalkanku
Yah... aku menolak ajakan lelaki itu karena aku takut denganmu. Dulu kamu berpesan agar aku tidak terbiasa dengan lelaki.
meskipun berkharisma? iya, jawabmu. Mulai dari situ pesanmu kusimpan di ruang khusus di hatiku. Aku menyembunyikannya dan menyimpannya dengan baik. aku tidak mau ia hilang karena banyaknya lubang hitam di hatiku. Setidaknya pesanmu membuat hatiku tidak hitam legam.
Sekarang aku bersandar di dniding selasar mesjid. aku menikmati kesendirian ini. aku menatap kelangit dan menikmati suasana ini. aku tersenyum sambil membayangkan wajahmu. Banyak orang yang bilang wajah kita mirip. Mirip sekali. Ini yang membuatku yakin bahwa aku tidak sia-sia menangis karena merinduimu.
Ada dua pohon di depanku, daunnya hijau. Burung-burung bersiul menambah romantisnya tempat ini. 1 2 3 menit kadang ada daun dari kedua pohon itu yang jatuh. warnanya kuning. Tiba-tiba aku bertanya “apakaha besok cinta ini seperti daun yang jatuh karena sudah tua. Ia tidak bisa menjadi bagian dari sebuah pohon karena usianya. Ia tercecer terbang ke sana-kemari. Terinjak Lalu datanglah hujan yang membuatnya basah. si matahari datang membuatnya kering rapuh. Hingga akhirnya hilang ditelan bumi”.
Sekarang terasa ada air yang lewat di pipiku. Apakah itu keringat dari dahiku? Tunggu sebentar aku menyentuhnya. Ternyata air ini dari kedua bola mataku. Aku tak sadar, ternyata aku serapuh ini meyakini cinta kita.  Sudah puluhan tahun cinta kita berjarak karena perantauanmu di negeri sana. Namun karena usai pertemuan kita yang kuanggab pertema kalinya itu, aku kembali merangkai cinta ini untukmu meski kadang aku tidak yakin apakah cintamu ada buatku.
Aku rindu, aku ingin mendengar suaramu mengatakan “aku mencintamu”  namun jika engkau tidak ingin mengatakan itu, bagaimana jika aku mencari lelaki lain. Yang bisa menjagaku dan mencintaiku.  Apa, Jangan? Kenapa? Karena tidak ada yang bisa mencintaimu seperti cintaku. Jawabmu. ini yang membuatku tidak kuat jika rasa rindu ini datang.
Tuhan... tolong sampaikan rasa rindu ini. tiupkan di teliganya saat tertidur. Agar jika ia bangun maka wajahkulah yang pertama ia ingat.
Sekarang aku mulai menangis lepas. Air mataku kubiarkan jatuh. Biar saja dilihat orang-orang yang berlalu. Aku sudah tidak peduli. Aku benar-benar rindu. Aku berdiri dari tempatku tadi dan berjalan menuju kamar mandi. Di sana aku mengambil air wudhu “kalau ada sesuatu di hati kita ambillah air wudhu maka semuanya akan baik-baik saja” itu yang kuingat darimu wahai engkau yang membuatku merindu.
Aku kembali duduk di tempat semulah. Kali ini aku melihatmu datang padaku dengan gagah berani. kulihat kau membawa sepucuk surat di tangan kanan. Kau senyum padaku dan menghampiri dengan mata berbinar-binar. Rasanya aku ingin terbang saking senangnya.
“ini surat untukmu” meraih tanganku kemudian berbalik lalu meninggalkanku. Ada apa ini? mengapa engkau pergi lagi?. Aku sudah jenuh menunggumu. Tapi mengapa kau hanya 10 kedipan mata berada di depanku?. Aku kalap, aku tak tahu harus bagaimana, aku ingin mengajarmu tapi rasanya kaki ini berat untuk melangkah. Lalu teringatlah aku pada dedaunan yang jatuh itu. seperti itulah kisah cinta kita. Cinta yang berguguran oleh waktu. Aku menangis merintih. Kubuka perlahan suratmu, kubaca dengan sejuta harapan bahwa engkau telah mengajakku untuk hidup bersama.
“Nak, cinta itu tidak selamanya harus bersama. Cinta tidak harus saling memiliki. Ayah tahu bahwa tak mudah engkau merasakan sendiri cinta. ayah paham nak. Ayah mungkin lebih sakit darimu. Tapi ayah tidak akan pernah mengatakan bahwa cinta kita seperti daun. Tetapi cinta kita seperti kapal pinisi, semakin lama ia di lautan makin kuat pula kayunya. Ingat bahwa cinta tak harus memiliki. Jaga dirimu baik-baik. ingat nak cinta tidak harus memiliki. Ayah tetap sayang padamu walau sulit bahkan mustahil kita berada dalam satu atap. Sekali lagi nak ayah katakan “cinta tak harus memiliki” begitu pun esok ketika egkau menyukai seorang lelaki. jangan pernah bersedih jika cintamu tak sampai. Titip dirimu untuk ayah. Jaga baik-baik yah. Jangan mengecewakan aku dan wanita pilihan ayah dahulu ”
... aku terbangun dari mimpi itu. setelah wudhu tadi, aku tertidur di selasar mesjid. duh.. ayah mungkin aku terlalu lelah  memikirkanmu.