Kala cita-cita bertahta
sosok yang sangat bijaksana prof. Dr. Nazaruddin umar. wakil mentri agama indonesia. Memberi keindahan lewat pesan-pesan yang  DIsampaikan. Beliau  merupakan alumni dari sebuah pesantren tertua di sulawesi selatan. Sosoknya yang ramah dan rendah hati membuat Nisa tak percaya kalau beliau merupakan santri yang pernah bersekolah di sekolah tempatnya menimbah ilmu di  pndok pesantren As’diyah. sekolah yang sangat sederhana tapi berkahnya luar biasa. Berawal dari pertama kali Nisa melihat sosoknya. membuat Nisa bangkit dari keterputusasaan. Ia memberi sebuah motifasi luar biasa yang menyadarkannya bahwa kemiskinan bukanlah suatu hal yang dapat menghalangi langkahnya. walaupun Nisa adalah seorang wanita yang memiliki kekuatan terbatas.
Hari itu detik-detik UAN akan tiba. beliau datang memberi sebuah harapan tentang hari esok yang lebih indah. Sebuah kata yang membangunkan raksasa yang tertidur di dalam tubuhnya adalah “AKU MENGANTONGI LIMA ATRIBUT UNIVERSITAS TERNAMA DI DUNIA” inilah kalimat yang tiga kali yang beliau ucapkan yang membuatku tercengang-cengang. Apalagi saat beliau menceritakan masa-masa nyantrinya sungguh tidak pernah terbayangkan oleh Nisa bahwa kelak beliau akan menjadi sosok yang sangat penting dalam negara.
Beberapa bulan telah berlalu, Nisa sudah lulus pada tingkat aliyah. Namun Nisa terbentur oleh biaya dan akhirnya tak dapat melanjutkan pendidikan.  Suatu hari saat kegelisahan dan kekecewaan membuatnya  tak berdaya. Nisa teringat dengan pesan seorang guru di pondok pesantren as’adiyah yang mengatakan “ jangan menyerah, rezki itu dari Allah”. Nisa segera bangkit dan mencari jalan bagaimana caranya agar dapat melanjutkan sekolah. Sungguh tak terbayangkan saat berkas yang dimasukkannya di kantor bupati di terimah. Nisa mendapatkan uang yang alhamdulillah cukup untuk di gunakan mendaftar.  Tak banyak berfikir, Nisa segerah mengutarakan maksudnya untuk melanjutkan sekolah di jogja. Sungguh hal yang tersulit baginya saat ibu melarangnya  pergi. “Ah...aku selalu berpegang terguh pada cita-cita” gumam Nisa dalam hati karena dia yakin dengan jalan ini dia dapat mengubah kehidupan keluargnya. Tanpa restu orang tua, Nisa berangkat ke jogja dengan bermodalkan keberanian.
Tahun-tahun telah berlalu, sampailah Nisa pada semester tujuh. Dimana keberhasilan akan segera digapainya. Sungguh tak pernah terbayangkan motifasi dari wakil mentri agama beberapa tahun yang lalu membuatnya  berjalan tanpa batas demi mengejar cita-cita. Suatu hari Nisa teringat dengan ibu yang ada di kampung. Nisa segera menghubunginya untuk menceritakan kehidupannya dan mengutarakan rasa rindu.
“assalamualaikum” sapa Nisa dengan lembut. Namun yang mengangkatnya bukanlah ibu melainkan ayahnya.
“waalaikum salam, ini dengan siapa?” tanya ayah
“ini dengan Nisa” jawabku lembut
“subehanallah, ini dengan kamu nak. Bagaimana kabarmu selama ini. ayah selalu mencari kabarmu namun tidak pernah ada jawabannya”
“maafkan aku ayah, pergi tanpa restu. Namun yang ingin Nisa katakan hanyalaha sekarang saya sudah semester tujuh itu artinya tidak lama lagi akan mendapat gelar sarjana”
“alhamdulillah kalau seperti itu nak” kata ayah nada bahagia
“ibu mana?” tanya Nisa lirih
“maafkan ayah nak. Ayah tidak memberimu kabar. Ibumu sudah di panggil oleh Allah beberapa bulan setelah kamu pergi” kata ayah mulai sesak
Saat terdengar jawaban ayah, serasa langit menempah tubuh Nisa. Butiran air mulai terlihat di kelopak matanya  hingga akhirnya tertumpah menjadi tangisan penyesalan.
“ayah, apakah saat ibu pergi dia menyimpan pesan untukku?” tanya Nisa sesak
“ibumu bilang, dia minta maaf kalau dulu melarangmu pergi” kata ayah.
Setelah Nisa mendengar pesan ibu, mulailah Nisa sadari bahwa kepergiannya yang dulu tidak boleh dia jadikan penyesalan melainkan cambuk untuk mengejar cita-citanya sebagai penulis terkenal demi mengangkat nama kampung halamannya SULAWESI SELATAN.
Tahun-tahun telah berlalu semua kisah hidupnya dijadikan inspirasi dalam menuntut ilmu demi keberhasilan dunia akhirat. Sungguh benar janji Allah, setelah melalui jalan hidup yang terjal, akhirnya sampailah Nisa pada cita-cita. Semua karya-karya yang ditulinyas di muat di berbagai media. Nama Nisa tidak asing di dindonesia. Puncak kejayaannya saat karya-karyanya di terjemahkan dalam bahasa asing. Hingga akhirnya luar negri bukanlah negara yang susah untuk dijelajahinya. Dari kisah ini terselip sebuah pesan “jadikan keberanian sebagai sayap untuk terbang menembus langit biru demi menggapai cita-cita yang tergantung”.

0 komentar: